HUBUNGAN ANTARA AKTIFITAS PENGAJIAN MUSLIMAT DENGAN INTENSITAS BERIBADAH ( Setudi Kasus Di Jama’ah Pengajian Muslimat Sibalung, Kemranjen, Banyumas )

 

A. Latar belakang masalah

Manusia adalah makhluk sempurna yang telah dipersiapkan tuhan untuk mengemban amanah memakmurkan bumi dengan Al-islam, sehingga manusia menjadi Khalifah di muka bumi.

Namun dalam kenyataanya manusia sejak lahir hingga tumbuh dewasa mengalami proses yang belum tentu menuju pada kesadaran untuk mengemban amanah  tersebut sebagaimana firman alloh “ dan aku ilhamkan pada jiwa itu jalan kefasikan dan jalan ketakwaan “ (Assyam; 8)

Kemudian Alloh berikan potensi-potensi pada manusia untuk menemukan  kesadaran tersebut, yaitu dengan memberikan mata, telinga dan hati sebagai potensi menuju kesadaran, yaitu dengan memakai mata untuk melihat tanda-tanda kebesaran tuhan, telinga untuk mendengar berita-berita ke agungan tuhan serta hati dan pikiran untuk mencapai kesadaran hakiki, Sehingga sampailah manusia tersebut pada jalan – jalan yang akan ia tentukan dalam melakoni hidup. ( Qs :An-nahl; 78 )

Ketika Alloh turunkan Rosul dari kalangan manusia sebagai utusan untuk membina, mengarahkan dan membimbing kepada jalan ketakwaan, manusia di beri kebebasan, akankah ia mengikutinya atau menolak. Bahkan ada yang memusuhinya akibat dari jalan kefasikan yang mereka pilih. sedangkan jalan ketakwaan itu adalah beribadah kepada Alloh dengan ketaatan yang murni, ( QS Adzariyat:56 )

beribadah dalam ruang lingkupnya dikelompokan menjadi dua, yaitu ibadah umum dan khusus./ mahdoh dan ghoiru mahdoh. Ibadah mahdoh ialah ibadah yang tegas tersurat dalam syara, seperti sholat, sakat, puasa dan haji. Sedangkan ghoiru mahdoh adalah yang bersifat umum mengenai segala aktifitas hidup, yang jika di sandarkan mencari ridlo Alloh dan bukan hal mengerjakan dosa, ( Ibadah dan akhlak dalam islam1998) sedang penelitian ini khusus bertujuan mengkur intensitas beribadah dalam lingkup mahdoh.

Hingga sekarangpun manusia tetap dalam keadaan yang sama, yakni berada di antara dua jalan hidup ketakwaan atau kefasikan sehingga mutlak memerlukan bimbingan dan arahan menuju kesadaran sebagai manusia yang harus mengabdi kepada Alloh, sehingga sepeninggal Nabi  terakhir hendaknya ada yang siap mewarisi fungsi pembimbing dan penuntun manusia dalam menuju kaesadaran hakiki melalui proses pendidikan dan pengajaran ( tarbiyah )

Fungsi ini biasanya di gantikan oleh para ulama, sehingga mereka bisa di sebut daengan gelar “ulama warisatul anmbiya” yaitu ulama yang mewarisi/ melanjutkan fungsi nabi sebagai pembimbing, Pembina, dan penuntun umat menuju hakikat beribadah kepada Alloh.

 Namun pada era sekarang ini (masyarakat industrial) peran rosul serta ulama warisatul anbiya juga di emban oleh lembaga-lembaga dan organisasi dengan mendidik dan menyelenggarakan pengajaran-pengajaran di tengah masyarakat yang memang harus memperoleh fungsi kerasulan tersebut.( mas’ud 2004:20)

Salah satunya oleh organisasi Nahdlotul Ulama, mereka mengambil peranan melnjutkan fungsi pembinaan dan pengarahan umat menuju kesadaran hakiki menusia sebagai hamba.

Terutama dalam membina perempuan muslimat sebagai warga nahdiyin yang memiliki peranan penting bagi pilar-pilar agama dan masyarakat. Dengan membentuk wadah khusus untuk mereka dalam jamaah kelompok pengajian muslimat.

Kelompok pengajian tersebut mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada proses pengajaran seperti, mengadakan majelis ta’lim satu minggu sekali di masjid dan wirid yasinan bergilir satu minggu satu kali di rumah warga anggota, .( hasil wawancara dengan anggota kelompok pengajian muslimat ), dalam upayanya mencetak muslimah-muslimah yang kokoh dan intens dalam beribadah ,

Sesuai dalam pengertian pengajaran agama islam yang efektif dan efisien ( Ahmad tafsir 2004 ), maka kegiatan kelompok pengajian tersebut yang paling memenuhi ketentuan ilmu pengajaran adalah pengajian rutin satu minggu satu kali di masjid. Di sebabkan adanya proses pengajaran yang efektif dan efisien.

Pengajaran efektif artinya pengajaran yang dapat di pahami peserta ajar secara sempurna, dalam ilmu pendidikan sering juga di katakana bahwa pengajaran yang tepat/efektif ialah pengajaran yang berfungsi pada murid, berfungsi artinya menjadi milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya.

 Ada beberapa hal yang harus di perhatikan untuk melakukan pengajaran agama islam secara efektif dan efesien. Dr. ahmad tafsir merumuskan sebagai berikut :

  1. Siapakah yang menjadi peserta ajar? Anak-anak,remaja,atau orang tua.
  2. Berapa jumlahnya? Satu orang,tiga orang,50 atau pengajianyang dihadiri200 atau ribuan orang?
  3. Seberapa dalam agama islam itu akan diajarkan? Mendalam, sedang-sedang, atau sekilas pengantar saja.
  4. Seberapa luas agama islam itu akan diajarkan? Pokok-pokoknya saja, atau sampai ke dalil-dalilnya atau bahkan segi filosofisnya.
  5. Dimana pengajaran itu berlangsung? Di rumah,di masjid,atau di sekolah?
  6. Peralatan apa yang tersedia? Lengkap, sederhana, memadai atau kurang memadai?

 Dari hal-hal tersebut maka aktifitas pengajian( seterusnya bisa di baca pengajaran)  ibu-ibu muslimat merupakan bagian dari pendidikan agama islam. Ini menggugah penulis untuk mengadakan penelitian terhadap hubungan aktifitas pengajian dengan intensitas ibadah pada ibu-ibu pengajian muslimat di sibalung, kemranjen, banyumas.

B. Definisi Operasional

Untuk memahami judul dengan presepsi yang benar, berikut penulis paparkan beberapa pengertian dari judul sekripsi ini.

  1. Hubungan

Adalah daya yang ada atau timbul dari suatu ( orang, benda, atau lain sebagainya) yang bertenaga atau berkekuatan gaib dan sebagainya. ( Kamus bahasa Indonesia, balai pustaka Jakarta hal 731).dalam hal ini adalah aktiitas pengajian/pengajaran dengan intensitas beribadah.

 

 

  1. Aktifitas pengajian

Adalah Kegiatan pengajaran agama islam yang bukan bersifat penelitian(  Darojat 2004 ), mengajar sekedar memberikan pelajaran agar peserta ajar dapat memiliki suatu ilmu atau ketrampilan baru. ( dewantara 1962; 20 )  dalam hal ini adalah kemampuan beragama islam yang baik. pengajaran merupakan pembinaan psikomotor semata-mata, yaitu agar peserta lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berpikir kritis, sistematis dan obyektif.

3. Intensitas ibadah

Secara bahasa intensitas ibadah terdiri dari dua kata, yaitu intensitas dan ibadah. Intensitas berasal dari kata intens/intensitas yang berarti giat, hebat (kamus bahasa, Dra.Yolanda Js. 1999), sedangkan ibadah berarti taat, tunduk menghambakan diri sepenuhnya untk mencapai keridloan Alloh.(Asshidiqiy,1954)

Dengan demikian intensitas ibadah adalah sebuah ketaatan dan penghambaan diri dengan giat kepada Alloh demi mencapai keridloannya semata.

            Dengan judul ini peneliti bermaksud memperjelas hubungan antara aktifitas pengajian muslimat dengan intensitas beribadah ibu-ibu kelompok pengajian muslimat sibalung, kemranjen, banyumas.

C.Rumusan masalah

      Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis kemukakan diatas maka penelitian ini di lakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana actifitas pengajian/pengajaran  pada jamaah ibu-bu muslimat di sibalung kemranjen banyumas?
  2. Bagaimana intensitas ibadah pada Jama’ah ibu-ibu muslimat di sibalung, kemranjen banyumas?
  3. Bagaimana hubungan actifitas pengajian dengan intensitas beribadah pada jama’ah ibu-ibu muslimat di sibalung, kemranjen, banyumas?

D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1.Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui actifitas pengajian pada jama’ah ibu-ibu Muslimat di sibalung, Kemranjen, Banyumas.
  2. Untuk mengetahui intensitas beribadah pada ibu-ibu jama’ah pengajian muslimat di Sibalung, Kemranjen, Banyumas
  3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara actifitas pengajian dengan intensitas beribadah ibu-ibu jama’ah pengajian muslimat di Sibalung, Kemranjen, Banyumas.

2. Manfa’at Penelitian

  1. Untuk memperkaya khasanah dunia pustaka.
  2. Sebagai bahan informasi ilmiah dalam dunia pengajaran dan pendidikan agama Islam.
  3. Menambah dan memperluas wawasan penulis yang ada di lapangan khususnya dan bagi para pembaca umumnya dapat menambah pengetahuan tentang hubungan actifitas pengajian/pengajaran dengan intensitas beribadah.

 

 

D. Hipotesis

Hipotesis adalah  klarifikasi yang bersifat sementara terhadap penelitian sampai terbuka melalui data yang terkumpul (Arikunto, 1993 : 67).

Agar penelitian ini objektif, maka penulis merumuskan hipoteis kerja dan hipotesis nihil. Hipotesis kerja dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif dan signifikan antara aktifitas pengajian dengan intensitas beribadah ibu-ibu jama’ah pengajian muslimat di sibalng kemranjen banyumas. Sedang hipotesis nihil adalah tidak adanya hubungan yang positif dan signifikan antara aktifitas pengajian dengan intensitas beribadah pada ibu-ibu jama’ah pengajian muslimat disibalung

Konsekuensinya jika data yag terkupul membuktikan kebenaran hipotesis kerja berarti hipotesis nihil ditolak artinya berarti ada hubungan positif dan signifikan antara aktifitas pengajian dengan intensitas beribadah pada ibu-ibu jama’ah pengajian muslimat sibalung kemranjen banyumas.

Tetapi jika data yang terkumpul tidak membuktikan kebenaran hipotesis kerja maka hipotesis nihil di terima artina tidak ada hubungan yang ositif dan signifikan antara aktifitas pengajian dengan intensitas beribadah pada ibu-ibu jama’ah pengajian muslimat di sibalung kemranjen banyumas

E. Telaah Pustaka

Untuk menegaskan penelitian yang akan dilakukan maka penting bagi penulis mengkaji lebih luas lagi tentang penelitian semisal melalui sekripsi orang lain dan berbagai buku yang mendukung tema penelitian, kepustakaan tersebut antara lain:

– Buku Metodologi Pengajaran Agama Islam, Karya ahmad tafsir. Dimana didalamnya dijelaskan pengertian pengajaran dan pendidikan di mana orang sering sulit membedakan karena tipisnya perbedaan pengertian keduanya tersebut. Dimana penekannannya adalah bahwa pengajaran merupakan bagian dari pendidikan

– Buku ibadah dan akhlak,

Didalamnya menjelaskan pengertian ibadah sebagai bentuk pengakuan eksistensi tuhan yang di wujudkan dalam bentuk ritual-ritual ibadah.

– Metodik khusus pengajaran agama islam.

Menjelaskan pengertian pengajaran yang sangat di tentukan oleh keadaan tempat, peserta ajar, dan tempat berlangsunnya proses pengajaran, yang itu sangat mempengaruhi kepada metode pengajaran yang di gunakan. di dalamnya dijelaskan juga berbagai metode pengajaran termasuk metode ceramah, meskipun memilii banyak kekurangannya namun terbukti paling banyak di gunakan terutama dalam pengajaran agama islam dalam lingkup pengajaran akidah, karena akidah tidak bisa di jelaskan dengan metode lain sebab hanya merupakan pengertian-pengertian, bukan pada paengajaran ranah psikomotor.

Maka Pengajian-pengajian termasuk dalam kegiatan pengajaran agama islam.

– Antologi pendidikan islam.

Menyajikan pemaparan tentang pentingnya peranan lembaga dalam tugas pendidikan dan pengajaran  termasuk sebagaimana buku Sejarah Pendidikan Islam karya Dra Zuhairini yang menerangkan peranan organisasi Islam di Indonesia terhadap pendidikan bahkan sangat jelas di sebutkan mereka berperan sangat basar, salah satunya adalah organisasi Nahdlatul Ulama yang juga hingga kini berperan aktif.

– Sekripsi Hubungan Kegiatan Masjid Sekolah Terhadap Aktivitas Keagamaan Pada siswa SMP Negri Kedungreja Oleh Sugeng Alamsyah.

Dalam sekripsinya mengemukakan persoalan apakah kegiatan yang di adakan masjid sekolah dan di ikuti para pelajar memiliki hubungan pada kegiatan keagamaan mereka?

Sedangkan kegiatan yang di maksud menjadi kegiatan ekstra krikuler agama islam pada sekolah itu seperti adanya Madrasah diniyah, Kegiatan tilawatil Qur’an kegiatan pengajian menjelang solat dzhur berjamaah, peringatan hari besar agama.dan lainnya.

Hal ini berbeda dengan tema yang saya angkat dalam sekripsi ini, dari segi kegiatan masjid walaupun sama-sama menfungsikan masjid sebagai lembaga pendidikan, namun hanya dalam hal penyediaan fasilitas pengajaran saja. Sedangkan arahnya adalah intensitas beribadah dalam keseharian ibu-ibu jamaah pengajian muslimat. Hal ini menjadi perbedaan sekripsi saya tersebut

F. Metode penelitian

  1. Jenis dan pendekatan penelitian

            Karena penelitian ini berusaha untuk mengetahui hubungan antara dua peristiwa,hubungan antara activitas pengajian muslimat dengan intensitas ibadah ibu-ibu anggota jama’ah muslimmat. Yang mana hubungan-hubngannya akan di tujukan berdasarkan skor-skor responden di dalam data-data statistik maka jenisnya di kategorikan penelitian korelasional kuantitatif.

            Di dalam penelitian ini masih terkonsentrasi pada hal pokok fungsi ajaran agama, yaitu ketekunan beribadah dengan tidak meninggalkan cakupan pendidikan dalam agama, memakai pendapat sayuthi akan tepat bila menggunakan pendekatan dogmatik, ( Sayuthi, 2002:95 )

  1. Obyek dan subyek penelitian

Obyek yaitu masalah penelitian terbentuk dengan adanya kesenjangan ( aapa das sollen dan das sein, yaitu adanya perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada di kenyataannya). Dalam penelitian ini adanya pengajian muslimat yang di ikuti oleh ibu-ibu dengan intensitas beribadah ibu-ibu pengajian muslimat. Sehingga menempatkan kelompok pengajian muslimat ini sebagai subyek penelitian.

  1. Variabel

Variabel adalah semua keadaan faktor, kondisi, perilaku atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen (Sutrisno Hadi, 1986:437).

Pada penelitian ini akan melibatkan kepada satu variabel bebas dan variabel terikat.variabel bebas atau variabel eksperimental atau variabel X, variabel yang akan diselidiki pengaruhnya yakni aktivitas pengajian muslimat, datanya diperoleh melalui angket qoisener mengenai aktivitas pengajian yang di ikuti oleh peserta majlis ta’lim tersebut.

Sedang variable terikatnya, variable Y adalah intensitas beribadah ibu-ibu anggota mslimat di sibalung, kemranjen banyumas yang datanya juga di peroleh melalui angket yang di bagikan ke jama’ah mengenai kegiatan ibadah sehari-hari.

 

 

 

 

  1.  Waktu dan tempat penelitian

Penelitian direncanakanakan pada bulan Agustus 2011, lokasi penelitian barada di desa sibalung tepatnya rt 01/09 kec kemranjen, kab banyumas karena lokasi tersebut merupakan populasi subyek penelitian yang akan di ambil sampel bagi penelitian sekripsi saya.

  1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1998:115). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota jamaah pengajian muslimat di desa sibalung. Yang terdiri dari lima dusun, masing masing ; dusun sibalung, dusun poncowati, dusun kemranjen, dusun Alur, dan dusun Sibulus,dan karanglo.

 Tersaji pada tabel :

No

Nama Dusun

Anggota Jama’ah

1

Alur

45

2

Sibalung

50

3

Kemranjen

35

4

Karanglo

60

5

Poncowati

55

6

Sibulus

55

 

Jumlah

300

 

 

 

 

4. Sampel

Yang dimaksud sample adalah sebagian atau wakil populasi yang

diteliti ( Arikunto, 1998:117 )

Untuk mengambil sebuah sampel, maka peulis mengambil formula yang telah dikembangkan oleh Issac dan Micheal dengan rumus:

 

 

Keterangan :

S    :  jumlah sampel yang diperlukan

X: nilai khai kuadrat yang diperoleh dari table  X2 dengan drajat kebebasan ( d.b / d.f ) = I taraf kepercayaan tertentu

N   :  besarannya populasi yang telah diketahui peneliti

P    : proporai populasi jika tidak diketahui proporsinya , peneliti mentapkan P = 0,50 dengan asumsi akan memperoleh besarnya sampai secara maksimum.

D   : derajat akurasi yang dinyatakan dengan propporsi.Dalam penelitian sosial biasanya diambil 5% atau d = 0,50 ( d=0,50 menunjukan tingkat kepercayan 95%). Peneliti dapat emnetapkan derajat akurasi akan berpengaruh pada jumlah sampel yang diperlukan  (Arikunto, 2002 : 113)

 

  1. Tehnik Sampling

Tehnik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang reprensentatif ( Margono, 20004 : 125).

Sedangkan tehnik sampleing yang digunakan dalam penelitain ini adalah tehnik random sampling yaitu pengambilan data sampling buku (Margono, 2004 : 125). Dengan diukur diharapkan sampel yang diambil betul-betul mewakili populasi.

Berdasarkan pendapat di atas, maka penulis mengambil langkah pengambilan sampel dengan N   = 2

mengikuti pendapat Issac dan Michael.

P   = 0,50

X2 = 0,50 dengan db =1 = 3,81

D2 = 0,05 =0,0025

N   = 300

 

 

 

 

 

.

 

  1.  Tehnik Pengumpulan Data

Dalam penelitain metode yang penulis gunakan dalam pengumpulan data yaitu :

  1. Metode angket

      Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal – hal yang ia ketahui ( Arikunto, 1993 :139 )

Metode ini digunakan untuk mencari data tentang berbagai jenis ibadah yang di lakukan oleh ibu ibu anggota muslimat. Dengan cara ini akan dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya.

  1. Metode observasi

Metode observasi dalah metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitan ( Riyanto, 2001: 96). Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi tentang kadaan Jama’ah pengajian muslimat Sibalung Kemranjen Banyumas serta letak geogarafis dan sarana prasarana, ustad, serta hal-hal yang berhubungan dengan penelitian ini.

  1. Metode interview

Metode interview adalah waawancara merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subjek atau responden ( Riyanto, 2001:82 )

Metode ini digunakan untuk mengetahui sedikit banyak tentang sejarah, tanggal dan tahun dibentuknya jamaah pengajian muslimat sibalung melalui  para ustad yang bertugas, ibu ibu jama’ah dan pamong desa setempat.

  1. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data – data yang sudah ada ( Riyanto, 2001:103 ). Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang data peserta arisan Qur’ban dan aktifitas ibadah lainnya dari anggota muslimat. Sebagai poin intensitas beribadah mereka

 

 

 

  1.  Tehnik Analisis Data

Data yang akan dianalisa yaitu keaktifan ibu-ibu mengikuti pengajian yang terkumpul berupa angka – angka yang diolah dengan menggunakan analisis statistic. Dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah r product momengt sebagai berikut :

           

 

 

 

                                                                  ( Sudijono, 2000 : 191 )

Keaktifan anggota kelompok pengajian muslimat yang di buktikan melalui absensi kegiatan jama’ah, dan berbagai indikator yang datanya tersusun melalui quisener angket tentang attensi jamaah dalam mengikuti pengajian yang lalu dikelompokan dalam variabel x ini menunjukan aktifitas pengajian yang baik. sedangkan jurnal ibadah harian hasil pensekorannya dikelompokan dalam variabel y. sebagai adannya daya hubungan dari aktifitas pengajian terhadap seorang jamaah. Kemudian melalui analisis korelasi diharapkan akan diketahui besar kecilnya korelasi ada diantara dua variabel tersebut.

 

 

 

 

 

H. Sistematika Penulisan

Untuk mengetahui penulisan penelitian yang akan penulis lakukan, maka penulis kemukakan sistematika penulisannya.

Pada bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman kata pengantar, halaman motto, halaman persembahan, daftar isi dan daftar table.

Kemudian secara garis besar penulisan penelitian ini terdiri atas lima bab, yaitu :

BAB I

Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, hipotesis, metoda penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II

Berisikan uraian yang terdiri 2 sub bab pembahasan yaitu

–          Aktivitas pengajaran pada umumnya

–          Pengertian Agama Islam

–          Beberapa metoda pengajaran agama islam.

Dan Intensitas beribadah yang meliputi

–          Hakikat ibadah

–          Ruang lingkup ibadah

–          Jenis- jenis ibadah

–          Tujuan ibadah

BAB III

Berisikan tentang gambaran umum lokaasi penelitian meliputi, sejarah dan perkembangan, letak geografis, keadaan tutor/ustadz dan jama’ah, setruktur oranisasi jama’ah, sarana dan prasarana, denah peta desa sibalung.

BAB IV

Berisi laporan hasil penelitian, yaitu         

–          Data absensi aktifitas pengajian dan indikator yang lainnya

–          Data jurnal ibadah harian ibu-ibu jama’ah pengajian Muslimat dll.

–          Dan analisis data tentang Hubungan Aktivitas Pengajian dengan Intensitas Beribadah.

BAB V

  Berisikan tentang kesimpulan, saran – saran dan penutup. Pada bagian akhir skripsi tentang daftar pustaka, lampiran – lampiran dan daftar riwayat hidup.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PROPOSAL TESIS : Hubungan Antara Transformational Leader Behavior dan Budaya Perusahaan (Corporate Culture) dengan Kesiapan Untuk Berubah (Readiness for Change) PT. Indosat area Jawa Tengah, kantor devisi regional.

A.     Latar Belakang Masalah

            Dalam ketatnya persaingan di bidang industri, maka perusahaan harus melakukan sebuah perubahan, Perusahaan harus dipersiapkan untuk menyongsong perubahan (corporation readiness). Langkahnya berawal dari pertanyaan apa yang harus dilakukan dan dituangkan dalam strategic planning, dan seterusnya menciptakan struktur yang mendukung melalui organizational redesign, serta membentuk budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung dengan melakukan culture change. Berikutnya adalah menaruh perhatian terhadap know how to do it yang dituangkan dalam business planning. Tidak ketinggalan  juga harus dibahas mengenai akuntabillitas melalui performance management dan pengembangan kapabilitas melalui management development. Jika kesemuanya telah siap maka tercapailah corporation readiness terhadap perubahan.

            Efektivitas usaha perubahan tersebut tentunya di pengaruhi oleh kesiapan karyawan untuk berubah. Oleh karena itu, pemahaman mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan untuk berubah merupakan hal yang penting bagi management dalam perusahaan. Terlebih bagi pergantian kepemimpinan dan budaya perusahaan.

            Terdapat sederet alasan mengapa karyawan harus melakukan perubahan di dalam perusahan tempat dia tinggal, diantranya adalah agar karyawan tersebut tetap di kontrak oleh pihak perusahan. Terutama bagi karyawan yang mengunakan jasa outsourcing,

            Setiap perubahan akan mempengaruhi siapapun, yakni baik dari pihak manajemen atau karyawan. Perubahan bisa ditanggapi secara positif juga negatif bergantung pada jenis dan derajat perubahan itu sendiri. Ditanggapi secara negatif atau dalam bentuk penolakan kalau perubahan yang terjadi dinilai merugikan diri manajemen dan karyawan. Misalnya dalam terjadinya transformasi kepemimpinan dalam perusahaan. Terjadinya transformasi kepemimpinan tentunya akan mengakibatkan perubahan budaya dalam organisasi yang berdampak pula pada perubahan budaya perusahaan, dengan terjadinya perubahan-perubahan tersebut, maka akan terjadi perubahan mutu sumber daya manusia. Sunber daya manusia ini berupa motivasional dan kinerja karyawan yang bertuuan menuju kearah yang lebih produktif. Meningkatnya motivasi dan kinerja karyawan, tentunya akan meningkatkan produksi dari perusahaan tersebut.

            Seperti yang diungkapkan oleh Drawing dalam Lewin dalam Weiner (2009) yakni dalam perubahan manajemen telah ditetapkan dalam berbagai strategi untuk menciptakan kesiapan dalam berubah, yakni penciptan motivasi untuk perubahan. Strategi tersebut termasuk menyoroti perbedaan tersebut antara tingkat kinerja saat ini dan yang diinginkan, mengobarkan ketidakpuasan dengan status quo, menciptakan menarik visi keadaan masa depan urusan, dan mendorong keyakinan bahwa keadaan masa depan dapat dicapai (Harris & Hardison dalam Lewin, 2009)

           Untuk mencapai keberhasilan program perubahan tersebut,  maka setiap orang harus siap dan mampu merubah perilakunya. Hal ini sangat bergantung pada apa yang mempengaruhi perilaku dan apa pula yang mendorong seseorang untuk berubah. Keterlibatan individu dalam tahap-tahap ini dipengaruhi oleh antisipasi terhadap risiko perubahan dan keuntungan yang akan diperoleh dari perubahan tersebut.  Oleh karena itu, pihak fasilitator perubahan haruslah orang-orang yang aktif dalam pendampingan dan memiliki kemampuan mempengaruhi dan memperlihatkan keuntungan dari perubahan tersebut. Faktor-faktor internal yang diduga mempengaruhi perilaku meliputi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan/keyakinan, lingkungan dan visi perusahaan.

            Kesiapan untuk berubah (readiness for change) mempunyai fokus terhadap dua hal, yaitu kompetensi yang mendukung perubahan dan komitmen untuk berubah. Tujuannya adalah mengidentifikasi kesiapan diri dalam melakukan perubahan, serta mengklarifikasi konsekuensi-konsekuensi perubahan. Diantara kedua hal tersebut,  dapat dijabarkan menjadi  sebuah matriks. Dari sisi kompetensi terentang diantara ‘tidak kompeten’  sampai tingkat ‘kompetensi tinggi’. Dari sisi komitmen terentang dari ‘komitmen tinggi’  dan  ‘komitmen rendah’. Tentu saja yang dikehendaki adalah kompetensi yang tinggi disertai kompetensi  yang tinggi pula.

            Mengembangkan kesiapan untuk berubah terkait erat dengan kesiapan diri (people readiness) yang bertumpu pada membangun kompetensi dan komitmen. Untuk itu perlu dukungan dari sisi kepemimpinan dan budaya perusahaan yang dapat mendukung perubahan  ini.

            Secara umum tahap-tahap perubahan akan meliputi tiga tahap: persiapan, penerimaan, dan komitmen. Langkah berikutnya, internalisasi,  dimaksudkan agar anggota organisasi mempunyai komitmen terhadap perubahan Faktor-faktor internal yang diduga mempengaruhi perilaku meliputi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan/keyakinan, lingkungan dan visi perusahaan. Sementara faktor-faktor  pendorong seseorang untuk berubah adalah kesempatan memperoleh keuntungan nyata atau menghindari terjadinya kerugian pribadi.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian tesis ini adalah sebagai berikut:

  1. Dalam hal ini baik pergantian kepemimpinan dan budaya perusahaan, saling berkaitan. Sebab budaya perusahaan berkaitan dengan organisasi dalam perusahaan, yang mana seorang pemimpin perusahaan memiliki peranan penting di dalam organisasi tersebut.
  2. Terdapat dua faktor yang berpengaruh pada

C. Perumusan Masalah

1. Bagaimana kesiapan untuk berubah (readiness for change) para karyawan,

2. Bagaimana hubungan antara pergantian kepemimpinan (transformational leader behavior) dengan kesiapan untuk berubah pada karyawan, dan

3. Bagaimana hubungan antara budaya perusahaan (corporate culture) dengan kesiapan untuk berubah pada karyawan.           

D. Tujuan dan Manfaat

1. Penelitian ini bertujuan:

–           Menjajaki kesiapan karyawan untuk berubah.

–           Mengetahui hubungan antara transformasi kepemimpinan dengan kesiapan untuk berubah pada karyawan.

–           Mengetahui hubungan antara budaya perusahaan dengan kesiapan untuk berubah pada karyawan.

–           Mendapatkan model readiness for change dalam keterkaitannya dengan transformasi kepemimpinan dan budaya perusahaan.

2. Manfaat

            Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dua jenis manfaat, yaitu:

a. manfaat praktis :

(1) memberi alternatif pada perusahaan tentang aspek-aspek kesiapan untuk berubah pada karyawan.

(2) memberikan informasi kepada perusahaan tentang model kesiapan untuk berubah yang peneliti temukan dalam penelitian.

b. Manfaat teoretis yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut:

(1) memperkaya wawasan pengetahuan bahwa kesiapan untuk berubah berkaitan erat dengan transformasi kepemimpinan dan budaya perusahaan,

(2) memperkaya wawasan penerapan teori-teori sumber daya manusia dan manajemen, khususnya readiness for change, dan

(3) memperoleh model readiness for change pada karyawan yang dapat diterapkan pada organisasi dan perusahaan lainnya.

E. Kerangka Teoritis dan Konseptual

            Dalam penulisan tesis ini yang digunakan penulis adalah teori Corporate Culture oleh Cameron & Queen, bahwa dalam

  1. 1.      Kesiapan Untuk Berubah (Readiness for Change)

            Perubahan menurut Robbins (2003) berkaitan dengan membuat segala sesuatunya menjadi berbeda. Menurut Backer (1995), kesiapan individu untuk berubah melibatkan keyakinan, sikap dan intensi individu sesuai dengan perubahan yang dibutuhkan. Individu dapat mendukung atau menolak untuk berubah, tergantung pada perubahan lingkungan, tipe perubahan yang diperkenalkan, dan karakteristik orang yang ingin diubah dan change agent. Oleh karena itu, intervensi untuk meningkatkan kesiapan untuk berubah adalah hal yang penting. Rendahnya kesiapan untuk berubah dapat menyebabkan rendahnya motivasi untuk berubah, atau bahkan melakukan tindakan-tindakan aktif untuk menolak perubahan.

            Armenakis, Harris, & Mossholder (1993) mengatakan ada  beberapa hal yang mempengaruhi kesiapan untuk berubah, yaitu: (1) kebutuhan untuk berubah; (2) kemampuan untuk melakukan perubahan (self-efficacy); (3) kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses perubahan.

1.1  Tahap-Tahap Perubahan

            Secara umum tahap-tahap perubahan akan meliputi tiga tahap: persiapan, penerimaan, dan komitmen. Pada tahap persiapan dilakukan berbagai kontak melalui ceramah, pertemuan, maupun komunikasi tertulis. Tujuannya agar tercapai kesadaran akan pentingnya perubahan (change awareness). Ketidakjelasan tentang pentingnya perubahan akan menjadi penghambat upaya-upaya dalam pembentukan komitmen. Sebaliknya kejelasan akan menimbulkan pemahaman yang baik terhadap pentingnya perubahan, yang mendukung upaya-upaya dalam pembentukan komitmen.

            Dalam tahap penerimaan, pemahaman yang terbentuk akan bermuara ke dalam dua kutub, yaitu persepsi yang positif di satu sisi atau persepsi negatif di sisi yang lain. Persepsi yang negatif akan melahirkan keputusan untuk tidak mendukung perubahan, sebaliknya persepsi positif yang  melahirkan keputusan untuk memulai perubahan dan merupakan suatu bentuk komitmen untuk berubah.

            Tahap komitmen melalui beberapa langkah yaitu instalasi, adopsi, instusionalisasi, dan internalisasi. Langkah instalasi merupakan periode percobaan terhadap perubahan yang merupakan preliminary testing terdapat dua konsekuensi dari langkah ini. Konsekuensi pertama, perubahan dapat diadopsi untuk pengujian jangka panjang. Kedua,  perubahan gugur setelah implementasi pendahuluan yang mungkin disebabkan oleh masalah ekonomi, financial dan politik, perubahan dalam tujuan strategis, dan tingginya vested interest.

            Sementara itu, Prochaska, dkk (dalam Cunningham dkk., 2002) mengemukakan tahapan yang lebih spesifik dalam kesiapan perubahan:

  1. Tahap Pre-Kontemplasi (Precontemplative): individu mulai menyadari kebutuhan untuk berubah.
  2. Tahap Kontemplasi (Contemplative): individu mulai mempertimbangkan tapi belum melaksanakan perubahan.
  3. Tahap Preparatory: individu mulai membuat rencana untuk berubah.
  4. Tahap Aksi (Action): individu mulai melaksanakan dan terlibat dalam perubahan.
  5. Tahap Pemeliharaan (Maintenance): individu berusaha untuk mempertahankan perubahan yang telah dilakukan.

            Keterlibatan individu dalam tahap-tahap ini dipengaruhi oleh antisipasi terhadap risiko perubahan dan keuntungan yang akan diperoleh dari perubahan tersebut.  Oleh karena itu, pihak fasilitator perubahan haruslah orang-orang yang aktif dalam pendampingan dan memiliki kemampuan mempengaruhi dan memperlihatkan keuntungan dari perubahan tersebut.

1.2  Faktor-Faktor Kesiapan Untuk Berubah          

            Faktor-faktor internal yang diduga mempengaruhi perilaku meliputi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan/keyakinan, lingkungan dan visi perusahaan (Weiner, 2009). Pengetahuan merupakan unsur pokok bagi setiap karyawan untuk merubah perilakunya dalam mengerjakan sesuatu. Semakin tinggi tingkat pengetahuan karyawan semakin mudah dia untuk mengikuti perubahan sesuai dengan tugasnya. Karena itu pengetahuan ditempatkan secara strategis sebagai salah satu syarat penting bagi kemajuan perilaku karyawan. Karyawan yang hanya menggunakan pengetahuan yang sekedarnya akan semakin tertinggal kinerjanya dibanding karyawan yang selalu menambah pengetahuannya yang baru.

            Kemudian ketrampilan, baik fisik maupun non-fisik, merupakan kemampuan seseorang yang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan baru. Ketrampilan fisik dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan fisik, misalnya mengoperasikan komputer, mesin produksi dsb. Ketrampilan non-fisik dibutuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang sudah jadi. Misalnya kemampuan memimpin rapat, membangun komunikasi, dan mengelola hubungan dengan para pelanggan secara efektif. Jadi disitu terdapat hubungan antara proses dan ketrampilan komunikasi antarpersonal. Ketrampilan lebih sulit untuk diubah atau dikembangkan ketimbang pengetahuan. Perubahan ketrampilan sangat terkait dengan pola perilaku naluri/instink. Proses perubahan respon instink karyawan membutuhkan waktu relatif cukup panjang karena faktor kebiasaan apalagi budaya tidak mudah untuk diubah. Misalnya karyawan yang biasanya bertanya pada karyawan dengan ucapan “apa yang manajer inginkan” sebab berkonotasi kurang sopan, dan sulit untuk segera berubah menjadi ucapan”apa yang dapat saya kerjakan untuk manajer” atau “bolehkah saya membantu manajer” sebab akan lebih sopan.

            Sedangkan kepercayaan, karyawan menentukan sikapnya dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya untuk mengerjakan sesuatu. Boleh jadi karyawan diberikan pengetahuan dan ketrampilan baru dengan cara berbeda. Namun hal itu dipengaruhi oleh kepercayaan yang dimilikinya apakah pengetahuan dan ketrampilan yang diterimanya akan berguna atau tidak. Dengan kata lain suatu kepercayaan relatif sulit untuk diubah. Jadi kalau  ingin melatih karyawan harus diketahui dahulu kepercayaan yang dimiliki karyawan sekurang-kurangnya tentang aspek persepsi dari kegunaan suatu pelatihan.

            Dalam faktor lingkungan, suatu lingkungan organisasi mempengaruhi perilaku karyawan apakah melalui pemberian penghargaan atas perilaku yang diinginkan ataukah dengan mengoreksi perilaku yang tidak diinginkan. Lingkungan organisasi seperti keteladanan pimpinan dan model kepemimpinan serta masa depan organisasi yang cerah akan berpengaruh pada derajat dan mutu perubahan perilaku karyawan. “Apa yang perusahaan berikan pada karyawan dan apa pula yang perusahaan dapatkan”. Keberhasilan perusahaan sangat ditentukan oleh apa yang bisa diberikan perusahaan kepada karyawannya. Semakin tinggi kadar insentif yang diberikan semakin efektif terjadinya perubahan perilaku karyawannya. Sebaliknya perusahaan yang tidak efektif  atau gagal  cenderung akan menciptakan perubahan perilaku yang juga tidak efektif.

            Sementara yang terakhir adalah, tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan ditentukan oleh kepercayaan kolektif dari para pimpinan perusahaan dan ini menciptakan lingkungan tertentu. Selain itu tujuan merupakan turunan dari visi masa depan dan sistem nilai perusahaan. Pemimpin perusahaan yang memiliki visi dan tujuan yang jelas akan menciptakan lingkungan yang mendorong perilaku produktif. Sebaliknya hanya akan menciptakan kebingungan di kalangan karyawan.

        Kombinasi dari lima faktor di atas menentukan keefektifan suatu perubahan perilaku karyawan. Dengan pengembangan pengetahuan yang ada karyawan semakin mengetahui atau memahami apa yang dibutuhkan untuk mampu mengerjakan pekerjaannya. Ketrampilan dalam bentuk kemampuan fisik dan non-fisik dibutuhkan agar karyawan mampu mengerjakan pekerjaan yang baru. Kepercayaan menentukan apakah karyawan akan menggunakan ketrampilan dan teknik barunya dalam praktek. Sementara lingkungan perusahaan akan menciptakan tujuan perusahaan dalam merumuskan standar apa yang bisa diterimanya. Tujuan perusahaan itu sendiri ditentukan oleh visi perusahaan dan dapat menciptakan lingkungan baru. Selain itu bisa jadi faktor pengaruh menguatnya kecerdasan emosional dan spiritual dari karyawan akan membantu perusahaan lebih siap dalam mengelola perubahan.

2. Tranformasi Kepemimpinan

            Perubahan sosial menurut Kotler (dalam Zaltman, Kotler & Kaufman, 1972:174) adalah“alterations in the attributes of functioning of individuals, groups, institutions or society”. Kotler menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan fungsi atribusi pada individu, kelompok, institusi ataupun masyarakat. Ia memunculkan The Elements of Social Change yang popular disebut The Five C’s, yaitu Cause, Change Agency, Change Target, Channels dan Change Strategy. Penjelasan untuk masing-masing elemen adalah sebagai berikut:

1.         Cause atau alasan individu dalam melakukan tindakan sosial (aksi protes, keinginan untuk membuat perubahan dan keinginan untuk membantu)

2.         Change Agency atau organisasi yang berfungsi sebagai agen perubahan, yang dapat berbentuk non-formal (kelompok atau perkumpulan atau paguyuban) dan formal (lembaga atau institusi dan organisasi politik)

3.         Change Targets atau subjek yang menjadi target perubahan, misalnya: individu, kelompok, komunitas, organisasi. Target dibedakan atas: ultimate target (target utama/target akhir) dan intermediate target (target antara yang perlu dilalui sebelum mencapai  target utama). 

4.         Channels atau saluran, media yang digunakan dalam melakukan perubahan. Jenis media / saluran yang dapat  digunakan adalah:

a.         Influence Channel untuk mempengaruhi target perubahan tanpa bersentuhan secara pribadi (radio, televisi, koran, majalah, buletin dan sebagainya). Selain itu, ada personal influence channel yang menggunakan diri sendiri untuk mempengaruhi target perubahan (pertemuan kelompok, negosiasi dan lobbying).

b.         Response Channel adalah saluran yang merupakan tanggapan terhadap target perubahan (pertemuan secara pribadi, melalui telepon, email dan lain sebagainya)

5.         Change Strategy atau strategi perubahan yang dipilih untuk mencapai sasaran perubahan. Tiga pendekatan yang umumnya digunakan dalam proses ini adalah:

a.         Strategi Re-edukasi. Agen perubahan melakukan pendidikan ulang, mengingat target perubahan sudah memiliki pengetahuan yang memadai sehingga prosesnya adalah peninjauan ulang atau review.

b.         Strategi Persuasi. Usaha memperkuat keyakinan (belief) atau nilai (value) yang tepat untuk menghasilkan perubahan perilaku pada target.

c.         Strategi Kekuasaan. Perubahan dilakukan dengan menggunakan sanksi atau peraturan yang ketat. Perubahan perilaku target akan terjadi karena adanya sanksi.

3. Budaya Perusahaan

3.1  Pengertian Budaya

     Dalam menerangkan konsep budaya, The International Encyclopedia of the Social Sciences (1972) menggunakan dua pendekatan untuk studi Antropologi periode 1900-1950, yaitu:

1)      Pendekatan pola proses (prosess-pattern theory, culture pattern as basic) yang di bangun oleh Franz Boas (1858-1942) dan di kembangkan oleh Alfred Louis Kroebcr (1876-1960), dan

2)      Pendekatan structural-fungsional (structural-fuctional theory, social structure as basic) yang di kembangkan oleh Bronislaw Malinowski (1884-1942) dan Radclifre-Brown.

     Kedua teori itu tercakup di dalam definisi budaya dalam arti luas yang meliputi culture dan civilization menurut Edward Bumett Tylor (1832-1917):

“Culture of Civilization, taken in its wide technographic sense, is that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and other capabilities and habits acquired by man as a member of society”.

     Inti dari pandangan Taylor ini memberikan makna budaya sebagai suatu kesatuan antara pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, adat-istiadat, dan lain-lain, yang di peroleh sebagai anggota atau bagian masyarakat.

     Vijay Sathe mendefinisikan budaya sebagai the set of important assumtions (often unstated) that members of a community share in common. Assumtions meliputi beliefs, yaitu asumsi dasar tentang dunia dan bagaimana dunia berjalan, dan values seperti telahdiuraikan di atas, sebagaimana di amati, dan tidak sebagaimana mereka (member of any community) katakana, karena yang satu bisa berbeda dengan yang lain

     Pengertian budaya yang  bersifat umum namun operasional di berikan oleh Schein (1992):

“Pattern of shared basic assumptions that the group learned as it solved its problems of external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid and. Therefore, to be taught to new members as the correct way to perceive. Thik, and feel in relation to these problems”.

     Shared basic assumptions itu menurut Sathe lebih lanjut meliputi (1) shared things, misalnya pakaian seragam, (2) shared sayings, misalnya ungkapan-ungkapan bersayap (3) shared doings, misalnya turut belasungkawa, dirgahayu, ucapan selamat, dan lain sebagainya (Cameron dan Quinn, 2006)

     Geert Hofstede dalam Culture’s Consequences mendefinisikan budaya sebagai collective programming of the mind, atau collective mental program. Mental programming terdapat tiga level:

1)      Universal level of mental programming, yaitu system biological operasional manusia termasuk perilakunya yang bersifat universal, seperti senyum dan tangis yang terjadi dimana-mana sepanjang sejarah.

2)      Collective level of mental programming, misalnya bahasa, dan

3)      Individual level of mental programming, misalnya kepentingan.

     Pandangan Hofstede ini memberikan makna bahwa budaya sebagai program kolektif/bersama-sama dari pemikiran yang membedabedakan anggota-anggota dari suatu kelompok atau komunitas manusia dengan yang lainnya.

     Zhi Namentwirth dan Robert Weber, melihat budaya sebagai suatu system dari ide/pemikiran dan pendapat bahwa pengesahan ide-ide ini di rancang untuk kehidupan. Dengan demuikian, budaya merupakan suatu system nilai dan norma yang diberikan pada suatu kelompok atau komuinitas manusia dan ketika itui di sepakati atau disahkan bersama-sama sebagai landasan dalam kehidupan. Budaya dapat di bagikan pada anggota dalam suatu kelompok , organisasi, maupun bangsa. Nilai-nilai diartikan sebagai ide-ide abstrak mengenai apakah suatu kelompok memprcayai kebaikan, kebenaran, dan keinginan. Sedangkan norma diartikan sebagai aturan social dan petunjuk-petunjuk yang menentukan perilaku dalam keadaan-keadaan tertentu. Keseluruhan pengetahuan (House, Hanges, Javidan, Dorfman, Gupa, 2004; Cameron dan Quinn, 2006).

 

3.2  Karakteristik Budaya.

            Berbagai fungsi budaya, menunjukkan perbedaan antara budaya dengan perilaku. Semua barang atau benda berperilaku; seperti perilaku komoditi yang merupakan daya tariknya, tetapi hanya manusia yang berbudaya, setiap orang atau kelompok berbudaya. Budaya setiap orang atau kelompok berbeda dengan orang atau kelompok lain. Budaya itu an sich tidak dapat di sebut buruk atau baik; beyond moral judgment.  (Ernawan, 2011)

 

3. 3  Budaya Perusahaan (Corporate Culture)

            Beberapa ahli telah mengemukakan definisi budaya perusahaan, antara lain sebagai berikut;

1)      J. Scherriton & J.L. Stern

“Corporate Culture generally refers to environment or personality of organization, with all its multifaceted dimensions. We devide corporate culture into four aspects. Those are ritualized patterns, management styles and philosophies, management system and procedures,as well as written and unwritten norms and procedures”.

            Budaya perusahaan umumnya tterkait dengan lingkungan atau personalitas organisasi dengan segala dimensi masalah yang di hadapi. Kami membagi budaya perusahaan dalam empat aspek, yaitu pola ritual, gaya manajemen dan filosofinya, system dan prosedurmanajemen, serta norma-norma dan prosedur tertulis dan tidak tertulis.

2)      Robbins, dalam organizational Behavior nmenyatakan bahwa budaya perusahaan adalah sekumpulan system nilai yang diakui dan di buat oleh semua anggotanya yang membedakan perusahaan yang satu dengan yang lainnya.

3)      Deal and Kennedy, dalam Corporate Culture, menyatakan bahwa Budaya perusahaan adalah nilai inti sebagai esensi falsafah perusahaan untuk mencapai sukses yang di dukung semua warga organisasi dan memberikan pemahaman bersama tentang arah bersama dn menjadi pedoman perilaku mereka dari hari-kehari.

 

3. 4  Faktor-faktor pembentuk budaya perusahaan

            J.P Kotter and J.L Heskett dalam Corporate Culture and Performance, menyatakan bahwa Budaya perusahaan adalah nilai dan praktik yang dimiliki bersama di seluruh kelompok dalam satu perusahaan, sekurang-kurangnya dalam managemen senior. Budaya dalam suatu organisasi terdiri dari nilai-nilai yang dianut bersama dan norma perilaku kelompok.

            Berdasarkan keempat definisi di atas, tampak bahwa unsure-unsur yang terdapat dalam budaya perusahaan terdiri dari: a) system nilai/nilai inti; b) lingkungan bisnis; c) pahlawan/pelopor; d) jaringan budaya; e) pola ritual keyakinan, nilai, dan perilaku; f) gaya manajemen; g) system dan prosedur manajemen; h) norma-norma dan prosedur; i) pedoman perilaku (Tika, 2010)

  1. F.      Metode Penelitian
  2. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian

Varibel-variabel yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi:

a. Variabel Tergantung (Y)        :  Readiness for Change

b. Variabel Bebas         (X1)     :  1. Transformational Leader Behavior             

                                    (X2)        2. Corporate Culture

  1. Populasi dan Sampel

            Populasi penelitian adalah karyawan di PT. Indosat area Jawa Tengah, kantor devisi regional. Sampel penelitian diambil secara randon sampling, terdiri dari karyawan tetap, minimal 100 orang, dengan karakteristik sampel sebagai berikut: (a) karyawan tetap PT. Indosat, (b), usia produktif, yaitu mereka yang berada pada tahapan dewasa muda (Levinson, 1986), (c) latar belakang pendidikan minimal S1, karena diharapkan dapat memahami keorganisasian dalam perusahaan.

3. Metode Pengumpulan Data

            Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala yang berbentuk angket yaitu dengan cara menyebarkan angket dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan dan disusun  sedemikian rupa sehingga calon responden dapat mengisi dengan mudah.

            Menurut Hadi (1991) ada beberapa anggapan yang dipegang dalam metode ini yaitu:

a. Subjek adalah orang yang paling tahu akan dirinya.

b. Apa yang dikatakan subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sama dengan yang dimaksudkan peneliti.

            Metode skala dalam penelitian ini adalah angket langsung yaitu yang diberikan langsung kepada subjek penelitian untuk mengatakan langsung pendataannya.

            Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah, skala kesiapan untuk berubah, transformasi kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Angket penelitian menggunakan skala linkert, nilai skala dari setiap pertanyaan dan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (favorable) dan tidak mendukung  (unfavorable), terhadap setiap pernyataan dalam kategori jawaban: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS).

4. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

                Suatu alat ukur diharapkan dapat memberikan informasi yang diharapkan oleh karena itu alat ukur harus memenuhi persyaratan tertentu terutama syarat validitas dan reliabilitas alat ukur.

5. Validitas alat ukur penelitian

                Menurut Azwar Saifuddin (1997) validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, semakin tinggi validitas suatu alat ukur maka semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur.

Rumus yang digunakan dalam mencari validitas tersebut dengan menggunakan rumus Korelasi Ganda atau Multiple Correlation sebab digunakan untuk mencari besarnya pengaruh atau hubungan antara dua variable bebas (X) dengan variable terikat (Y) (Riduan dan Akdon, 2010).

Desain penelitian dan rumus Korelasi Ganda sebagai berikut;

                                   

    r2 x1. y + r2 x2. y – 2 (rx1. y). (rx2. y). (rx1. rx2)

             rx1.x2.y =    √            1 – r2 x1 .x2

 

 

Keterangan:

rx1.x2. : Korelasi antara variable X1 dengan X2, secara bersama-sama dengan variable Y

rx1. y   : Korelasi Product Moment antara X1 dengan Y

rx2. y   : Korelasi Product Moment antara X2 dengan Y

r2 x1 .x2 : Korelasi Product Moment antara X1 dengan X2

            Jadi untuk dapat menghitung korelasi ganda, maka harus di hitung terlebih dahulu korelasi sederhananya dulu melalui korelasi Product Moment dari Pearson.

  1. Korelasi antara variable X1 (Transformasi Kepemimpinan) dengan Y (Kesiapan untuk Berubah)

 

                 n (∑X1 Y) – (∑X1).(∑Y)             

rx1. y =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Keterangan:

rx1. y   = koefisien korelasi antar variabel X1 dengan variabel Y

ΣX1 Y = jumlah dari hasil perkalian antar setiap X1 dan setiap Y

ΣY       = jumlah skor seluruh subjek pada tiap-tiap item

ΣX1     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek

ΣX12   = jumlah kuadrat X1    

ΣY2     = jumlah kuadrat Y

N         = jumlah subjek

 

b.         Korelasi antara variable X2 (Budaya Perusahaan) dengan Y (Kesiapan untuk Berubah)

 

                 n (∑X2 Y) – (∑X2).(∑Y)             

rx2. y =    √{n. ∑X2 2 – ∑ X2)2}. {n.(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Keterangan:

Rx2. y  = koefisien korelasi antar variabel X2 dengan variabel Y

ΣX2 Y = jumlah dari hasil perkalian antar setiap X2 dan setiap Y

ΣY       = jumlah skor seluruh subjek pada tiap-tiap item

ΣX2     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek

ΣX22   = jumlah kuadrat X2

ΣY2     = jumlah kuadrat Y

N         = jumlah subjek

c.         Korelasi antara variable X1 (Transformasi Kepemimpinan) dengan X2 (Budaya Perusahaan)

 

                 n (∑X1 X2) – (∑X1).(∑X2)             

rx1. x2 =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑X2)-( ∑X2)2}        

Keterangan:

Rx1.x2 = koefisien korelasi antar variabel X1 dengan variabel X2

ΣX1 X2= jumlah dari hasil perkalian antar setiap X1 dan setiap X2

ΣX1     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek variable X1

ΣX2     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek variable X2

ΣX12   = jumlah kuadrat X1

ΣX22   = jumlah kuadrat X2

N         = jumlah subjek

            Agar tidak terjadi perhitungan yang over testimate pada koefisien korelasi tersebut, maka dilakukan koreksi dengan menggunakan koreksi part whole (Ancok, 1985), dengan rumus:

  1.  Korelasi Parsial atau Partial Correlation

            Selain menggunakan Korelasi Ganda dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan Korelasi Parsial atau Partial Correlation, dengan dua variable bebas. Ini di maksudkan dan di uji apakah salah satu variable bebas itu bersifat konstan. Koefisien ry1.2 diartikan apabila koefisien korelasi antara Y dengan X1 dimana X2 bersifat konstan. Sedangkan ry2.1 diartikan apabila koefisien korelasi antara Y dengan X2 dimana X1 bersifat konstan.

Rumus dalam Korelasi Parsial adalah sebagai berikut:

  1. Apabila X2 bersifat konstan.

                 Ry1– ry2 r12        

ry1.2 =    √(1-r 2y2) (1- r 212)                           

 

b. apabila X1 bersifat konstan.

                 ry2– ry1 r12        

ry2.1 =    √(1-r 2y1) (1- r 212)                           

 

Dimana koefisien korelasi Y dengan X1 adalah:

 

                 n (∑X2 Y) – (∑X2).(∑Y)             

ry1 =    √{n. ∑X2 2 – ∑ X2)2}. {n(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Dimana koefisien korelasi Y dengan X1 adalah:

 

                 n (∑X1 Y) – (∑X1).(∑Y)             

ry2 =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Dimana koefisien korelasi X1 dengan X2 adalah:

 

                 n (∑X1 X2) – (∑X1).(∑X2)             

r12 =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑X 22)-( ∑X2)2}                             

7. Reliabilitas

            Pengujian signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda menggunakan rumus uji F.

 

Fh =            R2 / k         

            (1-R2) / (n-k-1)

 

Keterangan:

R          : Koefisien Korelasi Ganda

k          : Jumlah variable independent

n          : Jumlah Sampel

8. Metode Analisis Data

            Untuk mengetahui atau melihat apakah ada hubungan antara kematangan emosi dan konsep diri dengan berpikir positif, maka metode analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Ganda. Persamaan regresi ganda dapat di rumuskan sebagai berikut:

Ŷ = a + b1X1 + b2 X2

G.           Sistematika Penulisan

                Sistematika dalam penulisan Tesis ini terdiri dari 5 (lima) bab yang terdiri dari beberapa sub bab yang dijabarkan sebagai berikut:

Bab I      adalah merupakan bab pendahuluan yang menjadi pengantar untuk bab-bab   berikutnya. Dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, identifikasi   permasalahn, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka             teoritis dan konseptual metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II     Tinjauan Umum

                Bab ini akan membahas mengenai pengertian pencemaran lingkungan hidup, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, Pengaturan Hukum Lingkungan                 hidup di Indonesia, serta pengertian asas ultimum remedium.

Bab III   Aspek-aspek pencegahan limbah pengelolaan minyak dan upaya preventif.

                Bab ini akan membahas mengenai analisis dampak lingkungan, pengelolaan     limbah hasil kegiatan EP di PetroChina International Jabung, Ltd. serta upaya           pencegahan limbah oleh Pemerintah Daerah.

Bab IV   Analisis

                Bab ini akan membahas mengenai sistem mengatasi pengaturan limbah migas                dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 dan Undang-Undang Nomor 32    Tahun 2009, serta penerapan asas ultimum remedium dalam Hukum                 Lingkungan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.

Bab V    adalah penutup yang berisikan kesimpulan yang merupakan intisari dari bab-bab           yang dibahas, dan saran yang merupakan usulan atau rekomendasi yang tersirat               dalam kesimpulan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Siagian, Sondang P.  Prof. DR. M.P.A 2002, Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. PT Rineka Cipta, Jakarta

Fathoni, Abdurrahmat, Prof. DR. H, M.Si 2006. Manajemen Sumber Daya manusia. PT. Rineka

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PROPOSAL TESIS: Hubungan Antara Kecerdasan Emosi (EQ) dan Kepuasan Kerja (Job Satisfaction) dengan Kesiapan Untuk Berubah (Readiness for Change) PT. Indosat area Jawa Tengah, kantor devisi regional.

Abstract

            Penelitian-penelian terhadap kesiapan individu untuk berubah/ Individual readiness for change, baik dalam pengembangan sumber daya manusia/SDM dan bidang manajemen telah muncul terutama dalam dekade terakhir. Sebelumnya, studi kesiapan individu telah dan terus diterbitkan dalam literatur kesehatan, psikologi, dan medis (misalnya, dalam Prochaska, Redding, & Evers, 1997) dan terutama berfokus pada menghentikan kebiasaan kesehatan yang berbahaya misalnya, merokok dan obat-obatan dan yang positif mulai misalnya, manajemen berat badan, makan gizi, dan penggunaan tabir surya. Selama bertahun-tahun, dalam literatur psikologi SDM dan organisasi, banyak model perubahan telah memasukkan komponen kesiapan tapi kebanyakan tidak mencakup kedalaman tertentu terkait dengan komponen kesiapan. Sebagai contoh, Lewin (1951) model yang dikenal luas perubahan memiliki komponen kesiapan mencairkan, namun, berhenti singkat membahas dinamis dan rinci langkah, elemen, atau faktor kesiapan berpengaruh dari komponen ini. Bahkan, hanya selama masa lalu dekade telah peneliti (misalnya, Armenakis, Harris, & Mossholder, 1993;. Cunningham et al, 2002) mulai mengeksplorasi beberapa kesiapan individu untuk faktor perubahan organisasi.

            Perubahan adalah kata yang paling tidak disukai oleh mereka yang tidak siap menghadapinya. Tidak salah jika dikatakan bahwa mengelola perubahan adalah mengelola orang-orang yang terlibat di dalamnya. Jika tidak dikelola dengan baik, ketidaksiapan ini berpotensi pada munculnya resistensi. Kita ketahui bersama, resistensi terhadap program perubahan akan menghambat laju perubahan yang sedang dijalankan, bahkan lebih parah lagi dapat menggagalkan perubahan itu sendiri. Kegagalan perubahan dapat terjadi di setiap rentang waktu proses perubahan. Kegagalan secara dini mengakibatkan suatu perubahan menjadi prematur, sedangkan kegagalan di tahap akhir menjadikan hasil perubahan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kegagalan dalam tahap apa pun tetaplah kegagalan yang tidak dikehendaki oleh siapa pun.

            Dengan demikian, sebelum perubahan itu sendiri dijalankan, mendesak untuk diketahui bagaimana sebenarnya kesiapan internal suatu organisasi terhadap perubahan. Mengetahui kesiapan sejak awal akan memudahkan persiapan dalam implementasi perubahan. Bagian yang belum siap dapat diperbaiki sehingga menjadi lebih siap lagi. Setidaknya, mengetahui tingkat kesiapan terhadap perubahan mengurangi resiko perubahan itu sendiri dibandingkan dengan memaksakan perubahan secara hantam kromo. Dalam hal ini, kesiapan terhadap perubahan dapat diukur melalui pendekatan terhadap persepsi anggota organisasi yang terlibat dalam perubahan, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Persepsi yang meliputi perlunya perubahan, kesiapan emotif, kapabilitas menghadapi perubahan dan kemauan mereka untuk berubah.

            Kesiapan terhadap perubahan dapat saja dipengaruhi oleh rekam jejak dari perubahan yang sebelumnya pernah dijalani. Hasil dari proses perubahan sebelumnya, entah itu positif ataupun negatif, mempengaruhi pembentukan mindset terhadap perubahan. Kalau ada faktor historis yang berpengaruh tentu ada faktor futuristik yang tidak kalah berpengaruhnya, yaitu visi yang menentukan orientasi dan tujuan bersama. Tarik ulur antara kedua orientasi ini ditentukan oleh bagaimana komunikasi dibangun. Komunikasi yang baik dapat memenuhi kebutuhan emosional anggota organisasi di masa transisi sehingga secara emotif mereka menerima perubahan. Penerimaan secara baik menimbulkan komitmen, tidak hanya untuk menjadikan perubahan terjadi tetapi juga untuk mensukseskannya.

            Pengalaman penulis dalam konsultasi aplikasi change management di lapangan menunjukkan beberapa manajemen yang berasumsi bahwa resistensi terhadap perubahan berpangkal pada tiadanya kemauan untuk berubah atau rendahnya motivasi. Sepintas pun sudah kentara, asumsi ini cenderung mengkambinghitamkan anggota organisasi. Berdasar pengalaman, organisasi yang berpegang pada prinsip “manajemen selalu benar” secara organisatoris cenderung tidak siap berubah. Demikian juga dengan organisasi yang anggota-anggotanya tidak mempercayai manajemennya.  Padahal asumsi tadi tidak jarang hanyalah reaksi atau akibat yang tampak dari akumulasi ‘aksi sistemik’ yang tidak menopang secara baik. Jika ditilik dengan seksama dan fair akan terlihat secara nyata bahwa kemauan untuk berubah terkait dengan arahan (direction) yang diberikan, motivasi yang dipompakan, dan peluang (opportunity) yang ditawarkan.

            Arahan mencerminkan ekspektasi dan penentuan skala prioritas secara jelas dan tidak berbias. Komunikasi yang tepat dan transparan sangat dibutuhkan untuk ‘menjual’ perubahan. Rencana perubahan itu sendiri juga harus sejalan dengan rencana lain dalam organisasi, dan tidak menyimpang terlalu jauh dari budaya organisasi yang dimiliki. Kebersamaan akan memuluskan suksesnya suatu perubahan. Kurangnya kualitas arahan dapat berujung pada ambiguitas dan pada skala yang lebih parah bahkan menimbulkan kekacauan (chaos). Arahan yang baik hanya akan terpakai jika anggota organisasi termotivasi sehingga tidak mengalami kelesuan. Motivasi menjadi faktor kritis keberhasilan suatu program perubahan. Meskipun demikian, motivasi akan mengendur dan menguap begitu saja jika tidak mendapatkan dukungan semestinya. Bahkan, yang bersangkutan dapat menjadi frustasi karenanya. Dengan demikian dibutuhkan dukungan yang meciptakan peluang. Peluang ini terkait dengan dukungan manajemen berupa sumber daya yang memadai seperti kewenangan, waktu, informasi, SDM berikut pengembangannya, bahan, sampai dana.

            Selain kemauan, kesiapan terhadap perubahan juga ditentukan oleh tingkat kemampuan dan kompetensi anggota organisasi. Rendahnya tingkatan kedua faktor ini akan berakibat pada rendahnya kualitas yang ujung-ujungnya dapat menggagalkan proses perubahan. Bagaimana pun, perubahan melibatkan metode, material, mesin (teknologi), dan lingkungan yang baru dan tidak jarang benar-benar berbeda secara signifikan dengan periode sebelum terjadinya perubahan. Dengan demikian, perubahan ini menuntut kecakapan dan kompetensi baru yang tidak jarang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Kesukesan perubahan ditentukan oleh kualitas dari pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan.

            Pendek kata, kesiapan berubah (change readiness) berfokus terhadap dua hal, yaitu kompetensi yang mendukung perubahan dan komitmen untuk berubah. Begitu kesiapan anggota organisasi dalam melakukan perubahan teridentifikasi, dapat diklarifikasi konsekuensi-konsekuensinya.

  1. A.    Identifikasi Masalah

 

  1. B.     Perumusan Masalah

 

 

  1. C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian

 

E. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kesiapan untuk Berubah

 

2. Kecerdasan Emosi

a. Pengertian Kecerdasan Emosi

b. Faktor-Faktor

c. Pengembangan Kecerdasan Emosi di Lingkungan Kerja

            Pada abad ke-21, era millennium ketiga ini terjadi persaingan di berbagai sector terutama bisnis yang sangat tajam. Untuk memenangkan persaingan tersebut, perusahaan perlu memiliki keunggulan kompetitif/competitive advantage tertentu di bandingkan dengan pesaingnya.

            Keunggulan kompetitif perusahaan di bentuk melalui berbagai cara seperti menciptakan produk dengan desain yang unik, penggunaan teknologi modern, desain organisasi dan utilisasi pengelolaan sumber daya manusia secara efektif. Oleh karena itu pemimpin perusahaan, manajer, para ahli teknologi, supervisor dan karyawan perlu meningkatkan kecerdaan emosional agar mampu mendaya gunakan sumber dayanya secara optimal dalam mencapai kinerja; sehingga mampu mendudukan perusahaan pada posisi persaingan pasar yang lebih kuat di bandingkan dengan kompetensi yang dimiliki perusahaan-perusahaan pesaing. Sebagaimana hasil penelitian Daniel Goleman (2000) menyimpulkan bahwa “pencapaian kinerja di tentukan hanya 20 persen dari IQ, sedangkan 80 persen lagi di tentukan oleh kecerdasan emosi (EQ).”. begitu pula di simpulkan oleh Joan Beck bahwa IQ sudah berkembang 50 persen sebelum usia 5 tahun, 80 persen berkembangnya sebelum 8 tahun, dan hanya berkembang 20 persen sampai akhir masa remaja; sedangkan kecerdasan emosi (EQ) dapat di kembangkan tanpa batas waktu.  Oleh karena itu, pemimpin dan manajer jika mengharapkan pencapaian kinerja maksimal di perusahaannya, upaya yang paling tepat bagaimana upaya membina diri dan membina SDM bawahan untuk memiliki kecerdasan emosi baik (kecerdasan emosi baik berarti mampu memahami diri dan orang lain secara benar, memiliki jati diri, kepribadian dewasa mental, tidak iri hati, tidak benci, tidak sakit hati, tidak dendam, tidak memiliki perasaan bersalah yang berlebihan, tidak cemas, tidak mudah marah dan tidak mudah frustasi).

d. Karakteristik Kecerdasan Emosi

            PatriciaPatton (2002) mengemukakan ada 8 karakteristik kecerdasan Emosi yang perlu dimiliki, yaitu:

i) Kesabaran

Untuk menjadi orang sabar perlu melakukan antara lain mengakui bahwa anda tidak sabaran dan carilah penyebabnya; ukurlah batas toleransi anda; lakukan dialog dengan diri sendiri; belajar menentukan posisi; relaksasi; focus dan tindakan yang terkontrol.

ii) Keefektifan

Keefektifan melahirkan sikap-sikap penting seperti mampu, bersikap efektif, berpengaruh dan berdaya guna yang sangat perlu dalam melakukan tantangan. Mampu berarti menuntut orang bersikap kompeten ketika berhadapan dengan orang lain atau situasi tertentu. Bersikap efektif dapat dilakukan dengan menggabungkan kesabaran, ketekunan, bakat dan sikap optomis. Berpengaruh dapat di lahirkan melalui pendekatan personal, kejujuran dan kebaikan pada orang lain. Berdaya guna berarti berbuat nyata yang terpuji dengan sikap bertanggung jawab dengan membawa keberhasilan.

iii) Pengendalian dorongan

iv) Paradigma

v) ketetapan Hati

vi) Pusat Jiwa

vii) Temperamen

viii) Kelengkapan

e. Mengetahui Emosi

            Mengenal emosi seseorang membutuhkan waktu, perhatian dan konsentrasi. Berusahalah mengenali emosinya dari respon yang kita terima melalui kontak mata dan bahasa tubuhnya. Emosi adalah keadaan yang berlangsung lebih dalam yang menggerakkan kita atau memperingatkan kita apakah kita sadar tentang itu atau tidak; sedangkan perasaan adalah kondisi jasmaniah yang mengikuti pengalaman emosi. Kemampuan untuk mengetahui emosi kita dengan cara antara lain:

i) Mengetahui cetusan temperamen dan berusaha menghindari arus tidak sehat;

ii) Menghentikan kebencian, karena kita tidak mungkin mengarahkan perasaan negative secara efektif.

iii) Mengelola emosi

Mengelola emosi kita berarti memahami kondisi emosi dan kita harus mengkaitkannya dengan situasiyang sedang di hadapi agar memberikan dampak positif. Kita perlu menyadari bahwa emosi merupakan hasil dari interaksi antara pikiran, perubahan fisiologis, dan perilaku. Dengan demikian, mengelola emosi dapat dilakukan dengan mengelola factor-faktor yang terkait dalam interaksi yang menyebabkan timbulnya emosi. Sebagaicontoh; jika kita terbawa situasi kehilangan “pikiran sehat”, maka kita harus segera sadar bahwa dalam diri kita sedang terjadi proses sakelar RAS mulai cenderung pada otak emosional. (RAS= Raticular Activating System, pengimbangan otak rasional dan otak emosional). Begitu pula, jika terjadi perubahan fisiologis, misalnya nafas dalam-dalam beberapa kali agar nafas normal kembali. Oleh karena itu, kita harus segera mengimbangi otak emosional dengan otak rasional agar emosi kita terkendali.

Beberapa teknik untuk mengelola emosi adalah menggunakan humor, mengarahkan kembali energy emosi, dan mengambil jeda. Hal ini sebagai mana dikemukakan oleh taufiik baharudin (2001) sebagai berikut:

i)        Menggunakan humor

Humor mampu menghilangkan emosi negative seperti kesedihan, depresi dan kemarahan. Tertawa sebagai produk dari humor akan mampu menstimulasi untuk memproduksi endorphins pada otak. Bila endorphins di otak meningkat, maka rasa sakit fisik maupun emosi akan menurun. Bahkan tertawa juga dapat mengurangi rasa tertekan (stress)

ii) Mengarahkan kembali energy emosi

iii) Pada saat ketegangan emosi naik, maka penggunaan emosi juga meningkat dan peredaran darah menjadi lebih cepat. Hal ini karena, otak berada pada posisi siaga dan gelombang listrik kita adalah beta. Hal ini memungkinkan kecenderungan muncul cara berpikir spontan atau otomatis menjadi lebih besar. Dalam situasi seperti ini, cara terbaik adalah mengarahkan energy yang sudah timbul tersebut untuk mengerjakan kegiatan yang tidak ada hubungan dengan apa yang menjadi penyebab timbulnya kondisi ini. Dengan kata lain, kita mengalihkan pikiran pada kegiatan lainnya.

iv) mengambil jeda.

Suatu cara untuk mengurangi tekanan emosi dengan mengarahkan nya agar emosi menjadi normal. Beberapa cara nya antara lain:menarik nafas dalam-dalam , yoga, meditasi, atau beribadah.

f. mengelola emosi diri dan orang lain

mengelola emosi diri dan orang lain dalam upaya meningkatkan kecerdasan emosi, yaitu;

i) Jangan meruntuhkan kerja anggota tim dengan mengabaikan prestasi mereka

ii) Jangan menggunakan intimidasi, sebagai sarana pengembangan semangat tim

iii) Jangan mengangkat konsultan luar dengan tujuan menjatuhkan orang lain.

iv) Jangan memberikan pelayanan, dengan cara mengabaikan keberadaan orang lain.

v) Jangan menciptakan harapan yang tidak realistic dengan orang lain.

vi) Jangan meminta lebih dari yang akan anda berikan kepada orang lain.

vii) Jangan meminta lebih dari yang akan anda berikan kepada orrang lain.

viii) Jangan menggunakan manipulasi dan pemaksaan untuk mengendalikan orangh lain agar patuh.

ix) Jangan mengingkari janji dengan orang lain.

x) Jangan pura-pura menunjukkan ada lingkungan yang inofatif padahal sebenarnya tidak ada.

 

2. Kepuasan Kerja

a. Pengertian

            Keith Davis dalam Mangkunegara (2011:117) mengemukakan bahwa, kepuasan kerja adalah perasaan menyokong atau tidak menyokong yang dialami pegawai dalam bekerja. Sedangkan Wexley dan Yuki dalam Mangkunegara (2011:117) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. Berdasarkan pendapat Keith Davis, Wexley, dan Yuki tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upah atau gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lainnya, penempatan kerja, jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, dan mutu pegawasan. Sedangkan perasaan yang dengan dirinya, antara lain umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pensisikan. Pegawai akan merasa puas dalam bekerja apabila aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dirinya menyokong dan sebaliknya jika aspek-aspek tersebut tidak menyokong pegawai akan merasa tidak puas.

b. Variabel-Variabel Kepuasan Kerja

 Kepuasan kerja berhibungan dengan variabel-variabel seperti turnover, tingkat absensi, umur, tingkat pekerjaan, dan umuran organisasi perusahaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Keith Davis, yang mengemukakan bahwa “job satisfaction is related to a number of major employee variables, such as turnover, absences, age, occupation, and size of the organization in which an employee works”.

i)                    Turnover

Kepuasan kerja lebih tinggi di hubungkan dengan turnover pegawai yang rendah. Sedangkan pegawai-pegawai yang kurang puas biasanya turnovernya lebih tinggi.

ii)                  Tingkat Ketidak Hadiran Kerja

Pegawai-pegawai yang kurang puas cenderung tingkat ketidak hadirannya tinggi. Mereka cenderung tidak hadir kerja dengan a;asan yang tidak logis dan subjektif. Hubungan kepuasan kerja dengan turnover dan absensi dapat di perhatian pada bagan 11.1

iii)                Umur

Ada kecenderungan pegawai yang tuan lebih merasa puas dari pada pegawai yang berumur relative muda. Hal ini di asumsikan bahwa pegawai yang tua lebih berpengalaman menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Sedangkan pegawai usia muda biasanya mempunyai harapan yang ideal tentang dunia kerjanya, sehinga apa bila harapannya dengan realitas kerja terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan dapat menyebabkan mereka menjadi tidak puas.

iv) Tingkat Pekerjaan

Pegawai-pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan lebih tinggi cenderung lebih puas daripada pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih rendah. Pegawai-pegawai yang tingkat pekerjaannya lebih tinggi menunjukkan kemampuan kerja yang lebih baik dan aktif dalam mengemukakan ide-ide serta kreatif dalam bekerja. Hubungan kepuasan kerja dengan umur dan tingkat pekerjaan dapat diperhatikan pada bagan 11.2

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja

            Ada dua factor yang mempengaruni kepuasan kerja, yaitu factor-faktor yang Ukuran organisasi perusahaan dapat mempengaruhi kepuasan pegawai. Hal ini karena besar kecil suatu perusahaan berhubungan pula dengan koordinasi. Komunikasi, dan partisipasi pegawai.

3. Kecerdasan Emosi (EQ)

a. Pengertian

            Kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan kepada orang lain, hal ini diperoleh dengan menggunakan informasi untuk membimbing pikiran dalam bertindak. Kualitas-kualitas ini tercermin dari empati (kepedulian), mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemamampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat. Realitas menunjukkan seringkali individu tidak mampu menangani masalah-masalah emosional di tempat kerja secara memuaskan. Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang lain yang berinteraksi dengan kita. Akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dan konflik antar pribadi.

            Menurut Goleman (2000), Kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya dan mengatur suasana hati dengan tepat. Dalam konteks pekerjaan Cooper dan Sawaf (2003), berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan di sini bisa meliputi atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga pelanggan.

            Covey (2005) mengartikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan seseorang untuk memantau perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Selanjutnya Covey menyebutkan ada lima komponen utama kecerdasan emosional yang telah umum diterima yaitu: pertama, kesadaran diri, yakni kemampuan untuk merefleksikan kehidupan diri sendiri, menumbuhkan pengetahuan mengenai diri sendiri, dan mengunakan pengetahuan tersebut untuk memperbaiki diri, serta untuk mengatasi kelemahan; kedua, motivasi pribadi, yakni yang berkaitan dengan apa yang menjadi pemicu semangat seseorang, visi, nilai-nilai, tujuan, harapan, hasrat, dan gairah yang menjadi prioritas-prioritas mereka; ketiga, pengaturan diri atau kemampuan untuk mengelola diri sendiri agar mampu mencapai visi dan nilai-nilai pribadi; keempat, empati, kemampuan untuk memahami cara orang lain melihat dan merasakan berbagai hal; dan kelima, kemampuan sosial dan komunikasi, yakni yang berkaitan dengan bagaimana cara mengatasi perbedaan, memecahkan masalah, menghasilkan solusi-solusi kreatif, dan berinteraksi secara optimal untuk mengejar tujuan-tujuan bersama.

            Berbeda dengan Boyatzis et.al, (2005), berpendapat bahwa pemikiran tentang dimensi-dimensi kecerdasan emosi, serta kompetensi-kompetensi penyertanya, telah berevolusi dan diperbaiki, serta menganalisis data-data baru. Model kecerdasan emosi sebelumnya akan melihat beberapa perubahan. Jika sebelumnya memunculkan lima sisi kecerdasan emosi, sekarang telah disederhanakan menjadi empat model domain, yaitu: kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan pengaturan relasi.

            Pendapat Patton (2000), Kecerdasan emosional adalah kemampuan menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan produktif dan meraih keberhasilan. Kecerdasan emosional berarti menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilanketerampilan lain untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan dan untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional mampu berkomunikasi untuk menyampaikan sesuatu yang jelas dan menyakinkan dan memiliki jiwa kepemimpinan untuk membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain.

b. Pengembangan Kecerdasan Emosi di Lingkungan Kerja

            Pada abad ke-21, era millennium ketiga ini terjadi persaingan di berbagai sector terutama bisnis yang sangat tajam. Untuk memenangkan persaingan tersebut, perusahaan perlu memiliki keunggulan kompetitif/competitive advantage tertentu di bandingkan dengan pesaingnya.

            Keunggulan kompetitif perusahaan di bentuk melalui berbagai cara seperti menciptakan produk dengan desain yang unik, penggunaan teknologi modern, desain organisasi dan utilisasi pengelolaan sumber daya manusia secara efektif. Oleh karena itu pemimpin perusahaan, manajer, para ahli teknologi, supervisor dan karyawan perlu meningkatkan kecerdaan emosional agar mampu mendaya gunakan sumber dayanya secara optimal dalam mencapai kinerja; sehingga mampu mendudukan perusahaan pada posisi persaingan pasar yang lebih kuat di bandingkan dengan kompetensi yang dimiliki perusahaan-perusahaan pesaing. Sebagaimana hasil penelitian Daniel Goleman (2000) menyimpulkan bahwa “pencapaian kinerja di tentukan hanya 20 persen dari IQ, sedangkan 80 persen lagi di tentukan oleh kecerdasan emosi (EQ).”. begitu pula di simpulkan oleh Joan Beck bahwa IQ sudah berkembang 50 persen sebelum usia 5 tahun, 80 persen berkembangnya sebelum 8 tahun, dan hanya berkembang 20 persen sampai akhir masa remaja; sedangkan kecerdasan emosi (EQ) dapat di kembangkan tanpa batas waktu.  Oleh karena itu, pemimpin dan manajer jika mengharapkan pencapaian kinerja maksimal di perusahaannya, upaya yang paling tepat bagaimana upaya membina diri dan membina SDM bawahan untuk memiliki kecerdasan emosi baik (kecerdasan emosi baik berarti mampu memahami diri dan orang lain secara benar, memiliki jati diri, kepribadian dewasa mental, tidak iri hati, tidak benci, tidak sakit hati, tidak dendam, tidak memiliki perasaan bersalah yang berlebihan, tidak cemas, tidak mudah marah dan tidak mudah frustasi).

c. Karakteristik Kecerdasan Emosi

PatriciaPatton (2002) mengemukakan ada 8 karakteristik kecerdasan Emosi yang perlu dimiliki, yaitu:

1. Kesabaran

Untuk menjadi orang sabar perlu melakukan antara lain mengakui bahwa anda tidak sabaran dan carilah penyebabnya; ukurlah batas toleransi anda; lakukan dialog dengan diri sendiri; belajar menentukan posisi; relaksasi; focus dan tindakan yang terkontrol.

2. Keefektifan

            Keefektifan melahirkan sikap-sikap penting seperti mampu, bersikap efektif, berpengaruh dan berdaya guna yang sangat perlu dalam melakukan tantangan. Mampu berarti menuntut orang bersikap kompeten ketika berhadapan dengan orang lain atau situasi tertentu. Bersikap efektif dapat dilakukan dengan menggabungkan kesabaran, ketekunan, bakat dan sikap optomis. Berpengaruh dapat di lahirkan melalui pendekatan personal, kejujuran dan kebaikan pada orang lain. Berdaya guna berarti berbuat nyata yang terpuji dengan sikap bertanggung jawab dengan membawa keberhasilan.

3. Pengendalian dorongan

4. Paradigma

5. ketetapan Hati

6. Pusat Jiwa

7. Temperamen

8. Kelengkapan

d. Mengetahui Emosi

            Mengenal emosi seseorang membutuhkan waktu, perhatian dan konsentrasi. Berusahalah mengenali emosinya dari respon yang kita terima melalui kontak mata dan bahasa tubuhnya. Emosi adalah keadaan yang berlangsung lebih dalam yang menggerakkan kita atau memperingatkan kita apakah kita sadar tentang itu atau tidak; sedangkan perasaan adalah kondisi jasmaniah yang mengikuti pengalaman emosi. Kemampuan untuk mengetahui emosi kita dengan cara antara lain:

a)      Mengetahui cetusan temperamen dan berusaha menghindari arus tidak sehat;

b)      Menghentikan kebencian, karena kita tidak mungkin mengarahkan perasaan negative secara efektif.

c)      Mengelola emosi

Mengelola emosi kita berarti memahami kondisi emosi dan kita harus mengkaitkannya dengan situasiyang sedang di hadapi agar memberikan dampak positif. Kita perlu menyadari bahwa emosi merupakan hasil dari interaksi antara pikiran, perubahan fisiologis, dan perilaku. Dengan demikian, mengelola emosi dapat dilakukan dengan mengelola factor-faktor yang terkait dalam interaksi yang menyebabkan timbulnya emosi. Sebagaicontoh; jika kita terbawa situasi kehilangan “pikiran sehat”, maka kita harus segera sadar bahwa dalam diri kita sedang terjadi proses sakelar RAS mulai cenderung pada otak emosional. (RAS= Raticular Activating System, pengimbangan otak rasional dan otak emosional). Begitu pula, jika terjadi perubahan fisiologis, misalnya nafas dalam-dalam beberapa kali agar nafas normal kembali. Oleh karena itu, kita harus segera mengimbangi otak emosional dengan otak rasional agar emosi kita terkendali.

            Beberapa teknik untuk mengelola emosi adalah menggunakan humor, mengarahkan kembali energy emosi, dan mengambil jeda. Hal ini sebagai mana dikemukakan oleh taufiik baharudin (2001) sebagai berikut:

a)      Menggunakan humor

Humor mampu menghilangkan emosi negative seperti kesedihan, depresi dan kemarahan. Tertawa sebagai produk dari humor akan mampu menstimulasi untuk memproduksi endorphins pada otak. Bila endorphins di otak meningkat, maka rasa sakit fisik maupun emosi akan menurun. Bahkan tertawa juga dapat mengurangi rasa tertekan (stress)

b)      Mengarahkan kembali energy emosi

c)      Pada saat ketegangan emosi naik, maka penggunaan emosi juga meningkat dan peredaran darah menjadi lebih cepat. Hal ini karena, otak berada pada posisi siaga dan gelombang listrik kita adalah beta. Hal ini memungkinkan kecenderungan muncul cara berpikir spontan atau otomatis menjadi lebih besar. Dalam situasi seperti ini, cara terbaik adalah mengarahkan energy yang sudah timbul tersebut untuk mengerjakan kegiatan yang tidak ada hubungan dengan apa yang menjadi penyebab timbulnya kondisi ini. Dengan kata lain, kita mengalihkan pikiran pada kegiatan lainnya.

d)     Mengambil jeda.

Suatu cara untuk mengurangi tekanan emosi dengan mengarahkan nya agar emosi menjadi normal. Beberapa cara nya antara lain:menarik nafas dalam-dalam , yoga, meditasi, atau beribadah.

e) Mengelola emosi diri dan orang lain

Mengelola emosi diri dan orang lain dalam upaya meningkatkan kecerdasan emosi, yaitu;

  1. Jangan meruntuhkan kerja anggota tim dengan mengabaikan prestasi mereka
  2. Jangan menggunakan intimidasi, sebagai sarana pengembangan semangat tim
  3. Jangan mengangkat konsultan luar dengan tujuan menjatuhkan orang lain.
  4. Jangan memberikan pelayanan, dengan cara mengabaikan keberadaan orang lain.
  5. Jangan menciptakan harapan yang tidak realistic dengan orang lain.
  6. Jangan meminta lebih dari yang akan anda berikan kepada orang lain.
  7. Jangan meminta lebih dari yang akan anda berikan kepada orrang lain.
  8. Jangan menggunakan manipulasi dan pemaksaan untuk mengendalikan orangh lain agar patuh.
  9. Jangan mengingkari janji dengan orang lain.
  10. Jangan pura-pura menunjukkan ada lingkungan yang inofatif padahal sebenarnya tidak ada.

 

  1. F.     Metode Penelitian
  2. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian

Varibel-variabel yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi:

a. Variabel Tergantung (Y)     :  Readiness for Change

b. Variabel Bebas        (X1)     :  1. Kecerdasan Emosi

                                    (X2)        2. Kepuasan Kerja

  1. Populasi dan Sampel  

Populasi penelitian adalah karyawan di PT. Indosat area Jawa Tengah, kantor devisi regional. Sampel penelitian diambil secara randon sampling, terdiri dari karyawan tetap, minimal 100 orang, dengan karakteristik sampel sebagai berikut: (a) karyawan tetap PT. Indosat, (b), usia produktif, yaitu mereka yang berada pada tahapan dewasa muda (Levinson, 1986), (c) latar belakang pendidikan minimal S1, karena diharapkan dapat memahami keorganisasian dalam perusahaan.

  1. . Metode Pengumpulan Data

            Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala yang berbentuk angket yaitu dengan cara menyebarkan angket dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan dan disusun  sedemikian rupa sehingga calon responden dapat mengisi dengan mudah.

            Menurut Hadi (1991) ada beberapa anggapan yang dipegang dalam metode ini yaitu:

a. Subjek adalah orang yang paling tahu akan dirinya.

b. Apa yang dikatakan subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sama dengan yang dimaksudkan peneliti.

            Metode skala dalam penelitian ini adalah angket langsung yaitu yang diberikan langsung kepada subjek penelitian untuk mengatakan langsung pendataannya.

            Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah, skala kesiapan untuk berubah, transformasi kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Angket penelitian menggunakan skala linkert, nilai skala dari setiap pertanyaan dan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (favorable) dan tidak mendukung  (unfavorable), terhadap setiap pernyataan dalam kategori jawaban: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS).

4. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

                Suatu alat ukur diharapkan dapat memberikan informasi yang diharapkan oleh karena itu alat ukur harus memenuhi persyaratan tertentu terutama syarat validitas dan reliabilitas alat ukur.

5. Validitas alat ukur penelitian

                Menurut Azwar Saifuddin (1997) validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, semakin tinggi validitas suatu alat ukur maka semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur.

Rumus yang digunakan dalam mencari validitas tersebut dengan menggunakan rumus Korelasi Ganda atau Multiple Correlation sebab digunakan untuk mencari besarnya pengaruh atau hubungan antara dua variable bebas (X) dengan variable terikat (Y) (Riduan dan Akdon, 2010).

Desain penelitian dan rumus Korelasi Ganda sebagai berikut;

                                   

    r2 x1. y + r2 x2. y – 2 (rx1. y). (rx2. y). (rx1. rx2)

             rx1.x2.y =    √            1 – r2 x1 .x2

 

Keterangan:

rx1.x2. : Korelasi antara variable X1 dengan X2, secara bersama-sama dengan variable Y

rx1. y   : Korelasi Product Moment antara X1 dengan Y

rx2. y   : Korelasi Product Moment antara X2 dengan Y

r2 x1 .x2 : Korelasi Product Moment antara X1 dengan X2

            Jadi untuk dapat menghitung korelasi ganda, maka harus di hitung terlebih dahulu korelasi sederhananya dulu melalui korelasi Product Moment dari Pearson.

  1. Korelasi antara variable X1 (Transformasi Kepemimpinan) dengan Y (Kesiapan untuk Berubah)

 

                 n (∑X1 Y) – (∑X1).(∑Y)             

rx1. y =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Keterangan:

rx1. y   = koefisien korelasi antar variabel X1 dengan variabel Y

ΣX1 Y = jumlah dari hasil perkalian antar setiap X1 dan setiap Y

ΣY       = jumlah skor seluruh subjek pada tiap-tiap item

ΣX1     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek

ΣX12   = jumlah kuadrat X1  

ΣY2     = jumlah kuadrat Y

N         = jumlah subjek

 

b.         Korelasi antara variable X2 (Budaya Perusahaan) dengan Y (Kesiapan untuk Berubah)

 

                 n (∑X2 Y) – (∑X2).(∑Y)             

rx2. y =    √{n. ∑X2 2 – ∑ X2)2}. {n.(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Keterangan:

Rx2. y = koefisien korelasi antar variabel X2 dengan variabel Y

ΣX2 Y = jumlah dari hasil perkalian antar setiap X2 dan setiap Y

ΣY       = jumlah skor seluruh subjek pada tiap-tiap item

ΣX2     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek

ΣX22   = jumlah kuadrat X2

ΣY2     = jumlah kuadrat Y

N         = jumlah subjek

c.         Korelasi antara variable X1 (Transformasi Kepemimpinan) dengan X2 (Budaya Perusahaan)

 

                 n (∑X1 X2) – (∑X1).(∑X2)             

rx1. x2 =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑X2)-( ∑X2)2}        

Keterangan:

Rx1.x2 = koefisien korelasi antar variabel X1 dengan variabel X2

ΣX1 X2= jumlah dari hasil perkalian antar setiap X1 dan setiap X2

ΣX1     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek variable X1

ΣX2     = jumlah skor keseluruhan item pada tiap-tiap subjek variable X2

ΣX12   = jumlah kuadrat X1

ΣX22   = jumlah kuadrat X2

N         = jumlah subjek

            Agar tidak terjadi perhitungan yang over testimate pada koefisien korelasi tersebut, maka dilakukan koreksi dengan menggunakan koreksi part whole (Ancok, 1985), dengan rumus:

  1.  Korelasi Parsial atau Partial Correlation

            Selain menggunakan Korelasi Ganda dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan Korelasi Parsial atau Partial Correlation, dengan dua variable bebas. Ini di maksudkan dan di uji apakah salah satu variable bebas itu bersifat konstan. Koefisien ry1.2 diartikan apabila koefisien korelasi antara Y dengan X1 dimana X2 bersifat konstan. Sedangkan ry2.1 diartikan apabila koefisien korelasi antara Y dengan X2 dimana X1 bersifat konstan.

 

 

 

Rumus dalam Korelasi Parsial adalah sebagai berikut:

  1. Apabila X2 bersifat konstan.

                 Ry1– ry2 r12         

ry1.2 =    √(1-r 2y2) (1- r 212)                           

 

2. apabila X1 bersifat konstan.

                 ry2– ry1 r12        

ry2.1 =    √(1-r 2y1) (1- r 212)                           

 

Dimana koefisien korelasi Y dengan X1 adalah:

 

                 n (∑X2 Y) – (∑X2).(∑Y)             

ry1 =    √{n. ∑X2 2 – ∑ X2)2}. {n(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Dimana koefisien korelasi Y dengan X1 adalah:

 

                 n (∑X1 Y) – (∑X1).(∑Y)             

ry2 =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑Y2)-( ∑Y)2}                             

 

Dimana koefisien korelasi X1 dengan X2 adalah:

 

                 n (∑X1 X2) – (∑X1).(∑X2)             

r12 =    √{n. ∑X1 2 – ∑ X1)2}. {n.(∑X 22)-( ∑X2)2}                             

 

 

7. Reliabilitas

            Pengujian signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda menggunakan rumus uji F.

 

Fh =            R2 / k         

            (1-R2) / (n-k-1)

 

Keterangan:

R         : Koefisien Korelasi Ganda

k          : Jumlah variable independent

n          : Jumlah Sampel

8. Metode Analisis Data

            Untuk mengetahui atau melihat apakah ada hubungan antara kematangan emosi dan konsep diri dengan berpikir positif, maka metode analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Ganda. Persamaan regresi ganda dapat di rumuskan sebagai berikut:

Ŷ = a + b1X1 + b2 X2

G.           Sistematika Penulisan

                Sistematika dalam penulisan Tesis ini terdiri dari 5 (lima) bab yang terdiri dari beberapa sub bab yang dijabarkan sebagai berikut:

Bab I      adalah merupakan bab pendahuluan yang menjadi pengantar untuk bab-bab    berikutnya. Dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, identifikasi     permasalahn, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka                 teoritis dan konseptual metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II     Tinjauan Umum

                Bab ini akan membahas mengenai pengertian pencemaran lingkungan hidup,    prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, Pengaturan Hukum Lingkungan hidup di Indonesia, serta pengertian asas ultimum remedium.

Bab III   Aspek-aspek pencegahan limbah pengelolaan minyak dan upaya preventif.

                Bab ini akan membahas mengenai analisis dampak lingkungan, pengelolaan        limbah hasil kegiatan EP di PetroChina International Jabung, Ltd. serta upaya            pencegahan limbah oleh Pemerintah Daerah.

Bab IV   Analisis

                Bab ini akan membahas mengenai sistem mengatasi pengaturan limbah migas   dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 dan Undang-Undang Nomor 32         Tahun 2009, serta penerapan asas ultimum remedium dalam Hukum                 Lingkungan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.

Bab V    adalah penutup yang berisikan kesimpulan yang merupakan intisari dari bab-bab              yang dibahas, dan saran yang merupakan usulan atau rekomendasi yang tersirat                dalam kesimpulan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Analisis terhadap Implementasi Kebijakan Pemerintah Daerah/Lokal terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 12 Tahun 2006.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

            Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara demokrasi urutan ketiga terbesa di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Proses sejarah kehidupan demokrasi yang dialami oleh bangsa Indonesia melalui tiga tahapan zaman yaitu zaman Orde Lama, zaman Orde Baru, dan zaman Orde Reformasi. Amanat yang di tegaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu penyelenggaraan negara dan pembangunan nasional ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem politik dewasa ini sedang mengalami proses perubahan yang merupakan konsekuensi pergeseran paradigma tata-nilai dari sentralisasi ke desentralisasi sebagai produk reformasi tahun 1998.

            Proses tersebut merupakan desakan seluruh rakyat Indonesia sebagai pemegang kedaulatan tertinggi untuk menuntut perbaikan demokrasi. Pesta demokrasi yang diselenggarakan bangsa Indonesia tahun 2004 lalu menggambarkan proses pembelajaran dan pendewasaan pembangunan politik yang demokratis dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden langsung. Pada tingkat lokal pemilihan Kepala Daerah (Gubernur, WaliKota, dan Bupati) secara langsung merupakan media pembelajaran politik kepada akar rumput (masyarakat) dengan tetap menjunjung dan mengdepankan etika moral dalam berdemokrasi.

Dalam pelaksanaan kebijakan pemerintahan tersebut, desa juga merupakan ujung juga ombak dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan. Hal ini disebabkan, desa memiliki otonomi tradisional yang sesungguhnya. Penyelenggaraan pemerintahan desa menekankan pada prisip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Desa memiliki posisi yang sangat strategis karena merupakan cikal bakal suatu Negara dan soko guru sebuah Negara. Pembangunan Desa juga menjadi pondasi mengatasi kemiskinan. Dalam mendukung suksesnya pembangunan di desa adalah dengan adanya Pemerintah Desa yang handal dan responsif untuk melayani masyarakatnya.

Kepala Desa dan seluruh perangkat desa dituntut untuk mampu membaca aspirasi masyarakat. Diantara para perangkat desa yang memiliki tugas lumayan berat adalah Kepala Dusun. Sebagai perangkat desa unsur wilayah , Kepala Dusun memiliki tugas pengurusan dan pelaksanaan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, ketentraman dan ketertiban di masing-masing dusun. Sekilas tugas ini nampak mirip dengan tugas Kepala Desa yang secara menyeluruh mengurusi segala kepentingan dan pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karena itu , masyarakat sangat berharap bahwa seorang Kepala Dusun yang memimpin di dusunnya adalah orang yang cakap, mampu dan mau berkerja keras untuk kepentingan dusun yang dipimpinnya.

Keinginan untuk memiliki figur Kepala Dusun yang diharapkan itu, biasanya akan diaktualisasikan pada saat proses pemilihan Kepala Dusun. Proses yang tidak jauh beda dari pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa itu dipandang mampu mengantarkan seorang Kepala Dusun yang disegani, mampu diteladani dan mau mengabdi untuk kepentingan dusunnya.

Namun dalam realitas di lapangan, perpolitikan di desa jauh dari yang di harapkan dalam kebijakan pemerintah tersebut. Pemilihan Kepala Dusun, misalnya, senantiasa membutuhkan biaya yang cukup mahal, baik biaya yang diperlukan oleh Panitia Pemilihan Kepala Dusun yakni mulai penyediaan surat suara, bilik maupun logistik-logistik lain yang diperlukan dalam pemungutan suara serta biaya pengamanan yang dikeluarkan selama proses pengisian kepala dusun berlangsung. Selain itu biaya yang tidak sedikit juga dikeluarkan oleh calon-calon kepala dusun dalam rangka mensosialisaikan program-programnya dalam pembangunan dusun ke depan maupun mengkampanyekan/ mempromosikan dirinya untuk dipilih oleh masyarakat nantinya sebagai Kepala Dusun.

Faktor keamanan wilayah dalam hal ini guna mencegah konflik yang terjadi pasca pemilihan kepala dusun juga menjadi perhatian serius. Tidak dipungkiri bahwa setiap selesai dihelatnya Proses Pemilihan Kepala Dusun, masih terdapat bias-bias ketegangan antara para pendukung calon kepala dusun yang kalah maupun kepala dusun yang menang dalam Pemilihan Kepala Dusun sehingga pada tahun-tahun awal pasca selesainya Pemilihan Kepala Dusun, akan sangat mengganggu proses pembangunan di dusun tersebut.

            Terdapatnya sejumlah kendala tersebut menyebabkan beberapa pemerintahan daerah untuk mengeluarkan sebuah kebijakan baru, baik secara eksplisit maupun secara inplisit. Salah satunya adalah pemerintahan daerah Kabupaten Lamongan, yang mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2006 tentang tentang Tata Cara Pencalonan, Pengangkatan, Pelantikan dan Pemberhentian Perangkat Desa. Dalam Peraturan Daerah tersebut, dijelaskan bahwa Pengangkatan Perangkat Desa lainnya (termasuk di dalamnya Kepala Dusun) dilaksanakan melalui seleksi dengan sistem ujian tertulis oleh Panitia Pencalonan dan Pengangkatan Perangkat Desa. Peraturan Daerah ini otomatis telah mencabut Peraturan Nomor 33 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pencalonan, Pengangkatan, Pemilihan, Pelantikan dan Pemberhentian Perangkat Desa, yang menaungi keinginan dan partisipasi politik masyarakat untuk memilih Kepala Dusunnya.

            Kebijakan pengisian lowongan perangkat desa (termasuk berlaku di dalamnya dalam proses pengisian kepala dusun), merupakan kebijakan pemerintah daerah yang dilakukan untuk mencegah dan mengurangi hal-hal negatif yang selama ini terjadi di dalam pemilihan kepala dusun seperti yang di jelaskan diatas. Kebijakan pemerintah sendiri merupakan sebuah kegiatan pemerintah baik secara eksplisit maupun implisit. Kebijakan tersebut sejauh mungkin diupayakan berada dalam rel kebijakan yang beraras pada sebesar-besar kepentingan masyarakat.

            Namun Kebijakan Pemerintah daerah/lokal tersebut malah menyisakan pertanyaan dalam diri warga. Salah satunya adalah dengan apa yang disampaikan oleh Sdri. DARTI, Perangkat Desa Babatagung yang juga penduduk di Dusun Dagangan sebagai berikut:

            “Memang dari jaman dulu, yang namanya Kepala Dusun itu ya dipilih        oleh masyarakat. Soalnya, tugas Kepala Dusun kan memang cukup     banyak, yakni menangani hampir semua urusan yang ada di dusun. Lagian             masyarakat itu gak butuh Kapala dusun yang pinter, tapi lebih butuh           Kepala Dusun yang mau dan mampu untuk bekerja melayani masyarakat   dan harus dekat dengan masyarakat. Lha nanti kalo pakai ujian, trus calon    yang disenangi dan diharapkan masyarakat itu nilainya kalah sama calon     yang lain trus bagaimana?”

 

            Yang bahkan dalam penjelasan dan sosialisasi dari Pemerintah Desa tersebut juga mendapatkan tanggapan yang beragam dari masyarakat. Seperti apa yang disampaikan oleh Abdul Malik Kepala Desa Babatagung dalam wawancara pada tanggal 10 April 2011 sebagai berikut:

“Ketika kami memberikan sosialisasi terkait pengisian Kepala Dusun Dagangan yang menggunakan system seleksi dengan ujian tertulis, banyak masyarakat yang tidak setuju. Mereka mengatakan “iki ora umum”. Meskipun pada saat itu dijelaskan beberapa keuntungan seandainya system seleksi melalui ujian tertulis digunakan dalam pengisian Kepala Dusun. Jadi intinya masyarakat banyak yang menolak dan tetap meminta diadakan pemilihan Kepala Dusun di wilayahnya sehingga mereka juga ikut merasa berpartisipasi.”

 

            Kebijakan pemerintah tersebut memang sejalan dengan apa yang di kemukakan oleh Lasswell bahwa kebijakan tersebut haruslah berorientasi pada masalah-masalah yang harus di tangani oleh Pemerintah (Lasswell, 1951 dalam parson, 2006: 19, dalam Indiahono, 2009: 18). Juga seperti yang di kemukkan oleh Anderson, 1979: 2-3 dalam Indiahono, 2009: 17) yakni serangkaian tindakan yang tidak lepas dari kaitan kepentingan antar kelompok, baik di tingkat pemerintahan maupun masyarakat secara umum. Namun, kebijakan pemerintah ini, bertentangan dengan apa yang dikemukakan oleh Carl Friederich tentang kebijakan pemerintah. Yakni, sebagai suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan tertentu (Carl J. Friederich, 1963 dalam Anderson, 1979 dalam Indiahono, 2009: 18)

            Atas dasar fenomena diatas itulah maka peneliti tertarik untuk melakukan Analisis terhadap Implementasi Kebijakan Pemerintah Daerah/Lokal terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 12 Tahun 2006.

 

  1. B.     Masalah Penelitian

Dewasa ini studi mengenai implementasi kebijakan telah semakin mendapatkan perhatian, bukan saja di Negara – negara industri melainkan juga di Negara dunia ketiga (termasuk Indonesia). Sekalipun harus diakui bahwa Negara -negara dunia ketiga masih sedikit studi yang memberikan perhatian terhadap hubungan antara ciri-ciri kebijakan dan program-program dengan implementasinya atau studi yang mencoba mengkorelasikan antara variable-variabel implementasi dengan variabel pemerintahan/Negara dengan ciri-ciri rezim-rezim politik masing-masing dimana program-program ini diimplementasikan. Demikian pula studi yang mencoba mengeksplorasikan ciri-ciri umum implementasi kebijakan di dunia ketiga. Padahal seperti diakui sendiri oleh Merilee S. Grindle (1980 : 5), bahwa “the implemnentation process is especially central to politics in the countries of Africa, Asia and Latin America and is thus worthy of investigation and analysis.”

Perlu kiranya kita sadari bahwa mempelajari masalah implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami ”apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan, yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan kebijakan publik, baik itu menyangkut usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun usaha-usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat ataupun peristiwa-peristiwa” (Mazmanian, 1986:4)

Oleh karena itu guna memperoleh pemahaman yang baik mengenai implementasi kebijakan publik kita jangan hanya menyoroti perilaku dari lembaga-lembaga administrasi atau badan-badan yang bertanggung jawab atas suatu program berikut pelaksanaannya terhadap kelompok-kelompok sasaran (target group), tetapi juga memperhatikan secara cermat berbagai jaringan kekuatan politik ekonomi dan social yang langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku dari berbagai pihak yang terlibat dalam program dan pada akhirnya akan membawa dampak (yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan) terhadap program tersebut.

Dalam praktek, implementasi kebijakan merupakan proses yang sangat komplek, sering bernuansa politis dan memuat adanya intervensi kepentingan. Oleh karena itu, dalam tesis ini peneliti ingin mengetahui bagaimanakah implementasi suatu kebijakan pemerintah lokal tersebut. Yakni dengan mengajukan dua masalah pokok dalam penelitian ini, yakni:

1. Bagaimanakah Dinamika Proses Pengisian Kepala Dusun di Desa Babatagung setelah diterapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 12 Tahun 2006?

2. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya proses Pengisian Kepala Dusun di Desa Babatagung?

3. Bagaimanakah Tahap-Tahap Pelaksanaan Pemilihan Kepala Dusun Babatagung?

  1. C.    Tujuan Penelitian

            Untuk lakukan analiis terhadap implementasi kebijakan pemerintahan daerah/lokal tersebut, peneliti melakukan metode deskriptif sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan, melukiskan keadaan subyek, obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain), pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Hal ini sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini yakni untuk mengetahui:

  1. Dinamika proses pengisian lowongan Kepala Dusun di Desa Babatagung setelah berlakunya Perda Nomor 12 Tahun 2006.
  2. Faktor-faktor penyebab terjadinya proses Pengisisan Kepala Dusun di Desa Babatagung.
  3. Tahap-Tahap Pelaksanaan Pemilihan Kepala Dusun Babatagung

 

  1. D.    Manfaat Penelitian

            Dengan metode deskriptif dalam penelitian ini, maka analisa data yang di dapat akan diberi arti dan makna yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah seperti yang disampaikan diatas. Hal ini agar dalam penelitian ini peneliti mendapatkan manfaatnya, diantaranya adalah:

  1. Dengan mengetahui proses pengisian lowongan Kepala Dusun di Desa Babatagung (setelah berlakunya Perda Nomor 12 Tahun 2006), maka diharapkan akan memberikan informasi dan kontribusi kepada pemerintahan lokal, dimana pemerintahan dusun pada khususnya sebagai implementasi kebijakan pemerintahan di periode pemilihan kepala dusun selanjutnya.
  2. Dengan diketahuinya faktor-faktor penyebab dinamika dalam proses Pengisisan Kepala Dusun (Desa Babatagun) tersebut, maka di harapkan akan dapat memperbarui atau mengarah menjadi lebih baik pada implementasi kebijakan pemerintah Kabupaten (khususnya Kabupaten lamongan) dalam dalam rangka pembuatan Undang-undang Peraturan Daerah berkenaan dengan Pemilihan Pemilihan Kepala Daerah Lokal/Kepala Dusun.
  3. Dengan mengetahui tahap-tahap pelaksanaan Pemilihan Kepala Dusun Babatagung, maka diharapkan dapat memberikan informasi, analisis, dan pembenahan-pembenahan terhadap kekurangan-kekurangan pada pelaksanaan Pemilihan kepala Dusun Babatagung.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA BIAYA TRANSPORTASI BARANG DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK JAKARTA

 

  1. A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Di tengah-tengah perekonomian dunia yang melambat, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat perekonomian tercepat ketiga diantara Negara-negara G-20 untuk tahun 2009 dan Indonesia terus tercatat pertumbuhan ekonomi yang kuat di proyeksikan sebesar 6,4% untuk tahun 2012. Ini di tunjukkan oleh iklim usaha di Indonesia yang terus mengalami peningkatan. Menurut laporan Bank Dunia “Doing Business Report 2008” (Bank Dunia,2007b), pandangan dunia usaha tentang iklim investasi di Indonesia  sudah mengalami peningkatan hampir di sebagian besar daerah di Indonesia. Secara keseluruhan tingkat “kemudahan berusaha” di Indonesia telah meningkat dari urutan 135 pada tahun 2007 menjadi urutan 123 pada tahun 2008. Selain itu, indikator ekonomi makro Indonesia telah mengalami stabilisasi dan tingkat pertumbuhan PDB pada kwartal kedua tahun 2007, yakni  mencapai 6,3%. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia giat melakukan reformasi kebijakan usaha. Perbaikan-perbaikan yang konsisten ini telah diakui oleh laporan tahunan Doing Business. Menurut Doing Business 2012, Indonesia, diwakili oleh Jakarta, mendudukkan Indonesia di jajaran 50 perekonomian teratas yang berhasil melakukan kemajuan paling signifikan untuk mengurangi jarak antara mereka dengan prestasi negaranegara dengan kinerja terbaik, dan di jajaran 50 perekonomian teratas di kawasan Asia Timur dan Pasifik. (Doing Business Indonesia, 2012)

Namun demikian, walaupun persepsi iklim usaha sedang mengalami peningkatan hampir pada sebagian besar lini, persepsi tentang prasarana dan transportasi tampaknya semakin buruk. Dalam beberapa sektor ekspor, total biaya sebelum pengiriman dan angkutan darat dalam negeri mencapai lebih dari 40% dari total biaya logistik (Wibowo dan Dermawan, 2010). Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tahun 2011, biaya logistik di dalam negri saja mencapai 17% dari total biaya yang di keluarkan pengusaha. Angka ini tertinggi di bandingkan biaya logistik di Jepang yang hanya 5%, Singapura 6%, Filipina 7%, dan Malaysia 8% (Syafputri, 2012)

. Ketua asosiasi Logistik Indonesia Zaldi Ilham Masita menjelaskan, faktor utama yang membuat biaya logistik tinggi adalah tidak efisiennya jalur logistik saat ini. Sebagai contoh, 60% truk pengangkut barang hanya sekali membawa barang, sedangkan pulangnya tanpa muatan” ujar dia. Waktu angkut transportasi laut juga tidak pasti, yang berkontribusi besar terhadap tingginya biaya pengapalan di dalam negri. Perjalanan dari Jakarta ke Banjarmasin misalnya, dapat memakan waktu 4-47 hari. Sementara itu, waktu tunggu (dwell time) di pelabuhan Jakarta terus bertambah, dari rata-rata 4,9 hari pada 2010 menjadi 6,7 hari pada 2012. Tingginya ketidakpastian datangnya barang itu menjadi salah satu faktor utama pembengkakan biaya logistik di Nusantara. Yang berimbas pada ongkos transport menjadi mahal, dan perusahaan harus menumpuk stok barang banyak di pasar sehingga biaya persediaan naik.

Ewsearch Associate Lembaga Penyelidikan Ekomoni dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI) Arianto Patunru mengatakan, transportasi melalui air/laut di Indoanesia sangat tidak efisien. Padahal. Transportasi laut ini merupakan pendukunng utama perdagangan dunia karena biaya normalnya sangat murah di bandingkan transportasi darat, apalagi udara. Biaya logistik di Indonesia yang tinggi ini, bisa  menurunkan daya saing produk nasional. Sementara itu, transportasi di dominasi angkutan darat, sedangkan angkutan laut yang seharusnya murah justru lebih mahal dan memakan waktu lama di pelabuhan.

Rata-rata biaya transportasi darat di kawasan Asean sebesar US$ 0,22 sen per kilometer. Sedangkan di Indonesia mencapai US$ 0,34 perkilometer, bahkan untuk transportasi air mencapai US$ 0,54 perkolometer. Tingginya biaya transportasi laut di sebabkan jasa logistik di pelabuhan kurang mendukung, akibatnya banyak pungutan liar dan hambatan lain. Bahkan dalam Word Bank, biaya logistik Indonesia dari kawasan Industri ke Pelabuhan lebih tinggi di bandingkan Malaysia (Saleh, 2012).

 

Jika dibandingkan, dengan jarak tempuh hampir sama, biaya logistik di Indonesia itu bisa mencapai US$ 750, sedangkan Malaysia hanya US$ 450. Indonesia masih berada pada urutan rendah berdasarkan perhitungan LPI yang dilakukan Word Bank pada 2007, 2010, dan 2012. Dari kinerja logistik 155 negara, Indonesia berada pada peringkat 59 tahun ini, naik dari peringkat 75 pada 2010. Sementara itu, peringkat infrastruktur RI memburuk di bandingkan dua tahun sebelumnya (Saleh, 2012).

Tingginya biaya transportsi ini menurut The Asia Fundation (The Asia Fundation, 2008), di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu; biaya operasional truk/angkutan barang, retribusi pemerintah daerah dan jembatan timbang, pungutan uang keamanan yang di bayak kepada aparat dan preman (baik yang di pungut di jalan maupun yang dibayar secara rutin oleh pengusaha/pemilih truk, dan biaya perizinan yang harus di keluarkan oleh pengusaha/pemilik truk.

Berdasarkan faktor-faktor temuan The Asia Fundation itulah maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tersebut, dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya biaya transportasi barang di pelabuhan tanjung priok Jakarta

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan belakang masalah yang telah di sajikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimanakah faktor-faktor tersebut hingga mampu/bisa mempengaruhi tingginya biaya transportasi barang di pelabuhan tanjung priok Jakarta?
  2. Seberapa besarkah pengaruh faktor-faktor tersebut hingga mampu/bisa mempengaruhi tingginya biaya transportasi barang di pelabuhan tanjung priok Jakarta?
  3. C.    TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan maalah dapat di ketahui tujuan dari penelitian ini, yaitu:

  1. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya biaya transportasi barang di pelabuhan tanjung priok Jakarta, berdasarkan temuan The Asia Fundation.
  2. Untuk mengetahui, seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut hingga mampu/bisa mempengaruhi tingginya biaya transportasi barang di pelabuhan tanjung priok Jakarta
  3. D.    MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini adalag; 1) Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang jasa logistik di Indonesia khusunya pada transportasi laut tentang bagaimana factor-faktor tingginya biaya transportasi di pelabuhan tanjung periok Jakarta; 2) Diharapkan bisa memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah untuk kembali menata alur dan system logistic yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan sector pendistribusian barang khususnya di sector eksport; 3) Diharapkan akan memberikan wacana keilmuan pada sector ekomoni khusunya di bidang transportasi barang di jalur laut.

 

  1. E.     TINJAUAN PUSTAKA
  2. 1.      Landasan teori
  • Logistik merupakan seni dan ilmu mengatur dan mengontrol arus barang, energi, informasi, dan sumber daya lainnya, seperti produk, jasa, dan manusia, dari sumber produksi ke pasar dengan tujuan mengoptimalkan penggunaan modal. Manufaktur dan marketing akan sulit dilakukan tanpa dukungan logistik. Logistik juga mencakup integrasi informasi, transportasi, inventori, pergudangan, reverse logistics dan pemaketan.
  • Transportasi laut mempunyai peran sangat penting bagi perekonomian Jakarta. Hampir 99% kegiatan ekspor-impor diangkut menggunakan transportasi laut juga sangat penting bagi pergerakan perdagangan antar pulau (dalam negri) yang dilayani armada pelayanan nasional, maupun perdagangan antar Negara.
  • Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang. Peraturan Pemerintah RI No.69 Tahun 2001 mengatur tentang pelabuhan dan fungsi serta penyelengaraannya.
  • Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia yang terletak di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor maupun barang antar pulau.
  • Fasilitas pelayanan yang dimiliki oleh pelabuhan Tanjung Priok cukup memadai untuk melayani arus keluar masuk barang baik berupa barang curah, konvensional maupun container. Terminal pelayanan peti kemas ekspor-impor di pelabuhan ini ada 5 terminal yaitu:
    • Jakarta International Container Terminal I (JICT I)
    • Jakarta International Container Terminal II (JICT II)
    • Terminal Petikemas Koja (TPJ Koja)
    • Mustika Alam Lestari (MAL)
    • Multi Terminal Indonesia (MTI)

 

  • Biaya Transportasi. Biaya transportasi adalah biaya yang harus di keluarkan untuk melakukan proses transportasi. Biaya tersebut berupa: biaya penyedia prasarana, biaya penyediaan sarana, biaya operasioal transport

 

 

 

 

 

  1. 2.      Kerangka Teori/ Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Kerangka Teori dalam penelitian ini adalah:

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemilihan Kausal Komparatif, dilakukan berdasarkan masalah penelitian yang akan dicarikan solusinya

  1. 3.      Analisis

Analisis dalam Penelitian ini menggunakan analisis Regresi. Analisa regresi digunakan untuk menguji pengaruh satu atau beberapa variable independen terhadap sebuah variabel dependen.

a. Variabel independen / bebas sering juga disebut variabel predictor dan dilambangkan dengan huruf X

b. Variabel dependen / terikat sering juga disebut variabel respon dan dilambangkan dengan huruf Y

Model regresi dikembangkan berdasarkan atas prinsip asumsi statistik sebagai berikut :

  1. Varian dari nilai variabel tidak bebas harus sama dengan semua besaran dari variabel bebasnya.
  2. Deviasi dari nilai variabel tidak bebas harus tidak berhubungan satu dengan yang lainnya dan mempunyai distribusi normal atau minimal mendekati normal.
  3. Variabel bebas terukur dan tanpa kesalahan.
  4. Regresi dari variabel tidak bebas terhadap variabel bebas adalah linier. Jika hubungannya tidak linier maka perlu ditransformasikan terlebih dahulu menjadi linier.

Pemilihan variabel bebas untuk alternatif persamaan model dapat didasarkan kepada :

  1. Berhubungan secara linier dengan variabel tak bebas
  2. Memiliki korelasi yang tinggi dengan variabel tak bebas
  3. Tidak mempunyai korelasi yang tinggi dengan sesama variabel bebas
  4. Relatif mudah diproyeksikan

Model regresi dapat dinyatakan dalam suatu persamaan dimana terdapat 2 macam persamaan regresi linier :

a. Persamaan regresi linier sederhana; jika terdapat sebuah variabel independen.

Modelnya : Y = a + bX dimana a adalah suatu konstanta dan b parameter regresi.

b. Persamaan regresi linier berganda; jika terdapat lebih dari satu variabel

independen. Modelnya : Y = a + b1X1 = b2X2 + ……. + BnXn dimana a adalah

suatu konstanta dan b1, b2, ….,bn masing – masing adalah parameter regresi

untuk variabel X1, X2, …. Xn

Selain bentuk analisis regresi linier sederhana maupun berganda terdapat regresi dengan persamaan logaritma, eksponensial, hiperbola, berpangkat, polinomial, Compound, fungsi S dan fungsi Growth. Persamaan-persamaan regresi non linier sederhana atau berganda ini dalam penyelesaiannya dapat ditransformasikan menjadi bentuk regresi linier.

Jika model regresi linier tidak terpenuhi/cocok dengan data pengamatan maka alternatif analisisnya menggunakan model regresi non linier. Model regresi non linier bisa dijadikan model regresi linier dengan melakukan transformasi data menjadi hubungan yang linier. Tujuan transformasi adalah agar memperoleh model regresi yang bentuknya sederhana dalam peubah yang ditransformasi.

3.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda. Untuk mendapatkan model yang tepat, maka regresi linier berganda tersebut harus bebas dari masalah asumsi klasik. Untuk itu akan diuji terlebih dahulu mengenai tidak adanya penyimpangan terhadap asumsi klasik. Regresi linier berganda adalah alat yang dugunakan untuk meramalkan nilai pengaruh dua variabel bebas atau lebih terhadap suatu variable terikat, untuk membuktikan ada tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara dua atau lebih variabel bebas X1, X2, Xi, terhadap suatu variabel terikat Y.

Persamaan regresi untuk dua prediktor adalah :

Y = a + b1X1+b2X2

Persamaan regresi untuk tiga predictor adalah :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3

Persamaan regresi untuk n prediktor adalah :

Y = a + b1X1 + b2X2 + ………. + bnXn

Untuk mendapatkan model yang tepat, maka regresi linier berganda tersebut harus bebas dari masalah asumsi klasik. Untuk itu akan diuji terlebih dahulu mengenai tidak adanya penyimpangan terhadap asumsi klasik.

3.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi dalam penelitian ini menggunakan: Uji Normalitas, Uji Multikolinier dan Uji Heterokedastisitas. Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah nilai residual variabel (Y) tidak bebas dan variabel bebas (X) berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Sedangkan Uji asumsi klasik jenis ini bertujuan untuk analisis regresi linier berganda yang terdiri atas dua atau lebih variabel bebas (x1, x2, x3,x4,..xn) dimana akan diukur tingkat asosiasi (keeratan) hubungan/pengaruh antar variabel bebas tersebut melalui besaran koefisien korelasi (r).  Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heterokadastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homokedastisitas atau tidak terjadi Heterokedastisitas.

3.3 Penelitian terdahulu yang relevan

Penelitian ini memiliki hubungan yang terkait pada penelitian terdahulu sebelumnya, bedanya terlihat pada permasalahan yang diangkat dan metodologi yang digunakan. Penelitian yang relevan tersebut diantaranya adalah :

a. Penelitian yang dilakukan oleh The Asia Fundation di tahun 2008, yakni tentang Tingginya biaya transportsi laut yang di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu; biaya operasional truk/angkutan barang, retribusi pemerintah daerah dan jembatan timbang, pungutan uang keamanan yang di bayak kepada aparat dan preman (baik yang di pungut di jalan maupun yang dibayar secara rutin oleh pengusaha/pemilih truk, dan biaya perizinan yang harus di keluarkan oleh pengusaha/pemilik truk.

            Dalam penelitian ini tidak ada kajian analisis, dan hanya berupa pengumpuan data saja. Sehingga kajian statistiknya idak tertera.

b. Penelitian oleh Harmaini Wibowo, tentang Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Kapal Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, yang dilakukan pada tahun 2010. Namun, dalam penelitian ini hanya mencakup salah satu dari factor yang menjadi penelitian peneliti

 

  1. F.     METODE PENELITIAN
  2. 1.      Setting dan Subyek Penelitian

Setting Penelitian adalah di Pelabuhan tanjung Periok Jakarta. Sedangkan Informan dalam Penelitian adalah Kepala Kepabeanan/Pelindo, Pengusaha, Pihak Berwajib, Sopir, dan Preman yang menjadi informan dalam penelitian ini, yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian.

  1. 2.      Tehnik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan, calon peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa; a) wawancara langsung dengan informan penelitian untuk mengumpulkan data/informasi. Alat yang di gunakan adalah tape recorder.; b) observasi (pengamatan) yaitu mengadakan pengamatan langsung dilapangan. Alat yang di gunakan adalah kamera; c) dokumentasi yaitu mempelajari dokumen-dokumen atau catatan-catatan yang ada ditempat penelitian maupun dokumen hasil pemeriksaan yang berada di Bagian Kepabeanan/Pelindo.

3. Rencana Pengumpulan Data

3.1 Data Primer

Data Primer adalah data yang didapatkan langsung dilapangan atau dilokasi penelitian. Data tersebut didapat dengan cara wawancara dengan narasumber yang ada di lokasi penelitian. Data primer yang di dapat adalah bulan November 2012 yang di ambil berdasarkan jumlah sampel dari seluruh populasi.

Teknik perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan Teknik proporsional random sampling, didapatkan jumlah sampel proporsional sebesar 100 Kapal yang akan diteliti di Pelabuhan Tanjung Periok Jakarta. Untuk membedakan jumlah atau porsi dari masing-masing Kapal yang akan diamati.

Rencana Pengumpulan Data Primer terdiri dari :

1. Pengamatan dilakukan selama 60 hari dengan Lokasi pengamatan.

2. Pengamatan disesuaikan dengan jadwal kedatangan truk dan keberangkatan kapal barang yang telah ditetapkan oleh pihak Pelabuhan (PPKB). Waktu pengambilan data mengikuti waktu kerja di Pelabuhan.

3. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Proporsional random sampling.

 

3. 2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang didapat diobjek penelitian yang telah dicatat berupa dokumentasi yang telah dicatat berupa dokumentasi yang telah tersusun secara sistematis dan dapat digunakan sebagai bahan acuan atau referensi dalam penelitian. Data Sekunder yang digunakan terdiri dari :

1 Bukti Pemakaian Jasa Pandu (Formulir 2A/1) untuk Kapal Petikemas.

2 formulir Permintaan Pelayanan Kapal dan Barang (PPKB)

3 Data operasional Kapal barang/Kapal Petikemas

4 Laporan Harian Kesiapan Alat Bongkar muat.

Data sekunder diambil dari dokumen dan laporan kegiatan Kapal selama berada di Pelabuhan yang dibuat oleh PT. Pelindo Tanjung Periuk Jakarta.

 

4. Definisi Operasional dan Pengukuran Data.

Tingkatan atau skala pengukuran data pada penelitian ini dapat dibedakan kedalam dua jenis pengukuran diantaranya adalah sekala pengukuran kualitatif dan skala pengukuran kuantitatif. Pengukuran secara kualitatif bersifat nominal dan ordinal, karena satuan parameternya atau variabelnya tidak numerik atau tidak terukur. Sekala pengukuran kuantitatif bersifat interval dan rasio, karena dapat diekspresikan secara numerik atau yang dikenal dengan variabel yang terukur atau memiliki nilai.

Untuk pengukuran data yang berskala kualitatif atau katagori maka model regresi variabel harus dinyatakan sebagai variabel dummy dengan memberi kode 0 (nol) atau 1 (satu). Setiap variabel dummy menyatakan satu katagori variabel Independen nonparametrik, dan setiap variabel non-parametrik dengan (k) katagori dapat dinyatakan dalam k-1 variabel dummy. Kelompok yang diberi nilai dummy (0) disebut ekcluded group, sedangkan kelompok yng diberi nilai dummy (1) disebut included group. (Mirer, 1990).

Definisi operasional dan skala pengukuran dari masing-masing variabel Kapal-Kapal Petikemas adalah sebagai berikut :

1. Tingginya Biaya Transportasi Laut (Y) adalalah waktu menunggu Kapal selama

berada di perairan Pelabuhan Lini I.

2. Biaya Operasional (X1) Variabel ini diukur dengan menggunakan variable dummy, dimana :

Nilai 0 untuk rendahnya biaya operasional.

Nilai 1 untuk tingginya biaya operasional

3. Retribusi pemerintah (X2)

Variabel ini diukur dengan menggunakan data dummy dimana :

Nilai 0 untuk tidak adanya pajak retribusi

Nilai 1 untuk adanya pajak retribusi

4. Pungutan Uang (X3)

Variabel ini diukur dengan menggunakan data dummy dimana :

Nilai 0 untuk tidak adanya Pungutan Uang

Nilai 1 untuk adanya Pungutan uang

5. Biaya Perijinan (X4)

Variabel ini diukur dengan dummy dimana :

Nilai 0 untuk Biaya perijinan pengusaha

Nilai 1 untuk biaya perijinan sopir truk

 

G. ANALISA DATA

1. Tehnik Analisis Data

Sesuai dengan jenis penelitian ini, analisa yang dipakai adalah metode analisa kualitatif, yaitu meneliti suatu faktor-faktor dengan mengumpulkan data-data, membaca tabel-tabel, dan menganalisanya. Penelitian ini pada prinsipnya ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya biaya transportasi laut di pelabuhan tanjung periok Jakarta. Variabel-variabel yang digunakan adalah diambil dari pengamatan langsung di lokasi penelitian.

2.  Statistik Deskriptif

Gambaran umum mengenai sebaran dari masing-masing ukuran waktu yang digunakan dalam penelitian ini akan disajikan terlebih dahulu dalam bentuk statistic deskriptif.

H. JADWAL PENELITIAN

Jadwal penelitian akan dilakukan pada tanggal 5 November – 24 Desember 2012

Tanggal

Kegiatan

Keterangan

5 Nov

Wawancara untuk biaya operasional

 

12 Nov

Wawancara untuk biaya operasional

 

19 Nov

Observasi retribusi Pemerintah daerah

 

26 Nov

Observasi retribusi Pemerintah daerah

 

3 Des

Survey Pungutan Liar (Pihak berwajib)

 

10 Des

Survey dan Wawancara Pungutan Liar (Preman)

 

17 Des

Wawancara Biaya perijinan

 

24 Des

Wawancara Biaya perijinan

 

 

 

I. DAFTAR PUSTAKA

Doing business di Indonesia. 2012. Memperbandingkan Kebijakan Usaha di 20 Kota dan 183  

Perekonomian. Publikasi bersama Bank Dunia dan International Finance Corporation, 2012 The International Bank for Reconstruction and Development / The World Bank

Lembaga Penyelidikan Ekomoni dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

(LPEM-FEUI). Regulasi, Birokrasi, da Infrastruktur Hambat Logistik: Transportasi laut yang Murah Tak Dikembangkan.

Saleh, M. Tahir. 2012. Biaya Logistik Tinggi: Bank Dunia usulkan efisiensi dwell time di

Indonesia. 08 Mei 2012. http://www.bisnis.com/articles/biaya-logistik-tinggi-bank-dunia-usulkan-efisiensi-dwell-time-di-indonesia

Saleh, M. Tahir. 2012. Sistem Logistik: Bank Dunia sarankan RI belajar dari tetangga. 08 Mei

2012. http://www.bisnis.com/articles/sistem-logistik-bank-dunia-sarankan-ri-belajar-dari-tetangga

Syafputri, Ella. 2012. VIVAnews: Kadin-Biaya logistik di Indonesia paling mahal. 14 Februari

2012. http://www.antaranews.com/berita/1329201790/kadin-biaya-logistik-di-indonesia-paling-mahal

The Asia Fundation. 2008. Biaya Transportasi Barang Angkutan, Regulasi, dan Pungutan Jalan

di Indonesia.

Wibowo, Arinto Tri dan Darmawan, Agus Dwi. 2010. VIVAnews: Biaya Logistik Indonesia

Termahal di Asean Bila dihitung total cost per unit, di Indonesia bisa mencapai di atas 10-15 persen.  4 Oktober 2010.

http://news.viva.co.id/news/read/181063-biaya-logistik-indonesia-termahal-di-asean

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Konsultan Tesis Surabaya

Web ini melayani jasa konsultasi dan pembuatan tesis dan disertasi anda. Jika anda berminat silahkan hubungi saya di 081230964333 atau 085731964333. Trimakasih.

Leave a comment

Filed under Uncategorized